RADARMAGELANG.ID, Temanggung--Kebun Edukasi Alifa di Desa Geblog, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung menjadi tempat edukasi tentang lebah.
Pengunjung tak sekadar melihat koloni lebah, tapi juga diajak memahami siklus kehidupan lebah hingga proses madu dihasilkan.
Tempat edukasi ini telah dirintis sekitar lima tahun lalu. Pengunjung terutama anak-anak dikenalkan berbagai jenis lebah, proses menghasilkan madu, manfaat madu, hingga cara membedakan madu asli dengan madu yang telah dicampur bahan lain.
"Anak-anak bisa mengetahui bagaimana siklus kehidupan lebah dan madu, manfaat madu, jenis madu, serta membedakan madu asli dan palsu," ujar pengelola Kebun Edukasi Alifa, Irsyad, 47, Minggu (20/9/2026).
Menurutnya, edukasi tidak berhenti pada pengenalan lebah. Anak-anak juga perlu memahami, keberadaan lebah sangat bergantung pada kondisi alam di sekitarnya.
Budidaya lebah membutuhkan lingkungan dengan tanaman berbunga sebagai sumber nektar dan pollen. Lebah juga membutuhkan resin atau getah untuk mendukung kehidupan koloninya.
Karena itu, produksi madu sangat dipengaruhi ketersediaan sumber makanan lebah. Saat tanaman berbunga melimpah, produksi madu dari keseluruhan koloni yang dikelola kelompok Irsyad dapat mencapai sekitar 20-25 kilogram per bulan.
Sebaliknya, ketika musim kering atau terjadi paceklik bunga, produksi madu dapat menurun bahkan tidak ada panen. Dalam kondisi tersebut, Irsyad memilih tidak memaksakan mengambil madu. Madu yang tersedia dibiarkan untuk memenuhi kebutuhan koloni.
"Kalau di sekitar tidak ada bunga, kita tidak usah mengambil madunya. Yang penting lebahnya aman. Madunya untuk mereka," katanya.
Prinsip tersebut juga menjadi bagian dari pembelajaran kepada pengunjung. Pemanenan madu, kata Irsyad, harus memperhatikan keberlangsungan koloni. Madu tidak boleh diambil seluruhnya karena lebah tetap membutuhkan cadangan makanan. "Kalau diambil semuanya, lebahnya bisa marah lalu pergi. Jadi, harus menyisakan untuk lebah," jelasnya.
Di Kebun Edukasi Alifa, terdapat dua jenis lebah yang dikenalkan kepada pengunjung, yakni Apis mellifera dan lebah klanceng atau Trigona. Jumlah koloni di lokasi edukasi sengaja terbatas karena lebih difungsikan sebagai media pembelajaran.
Rama Nugraha, salah satu orang tua siswa mengaku, edukasi mengenai lebah penting bagi anak-anak. Selain memberikan edukasi, hal tersebut juga membuka pengelaman siswa di kehidupan lantaran terdapat potensi bisnis yang bisa dijalankan. "Saya dari Mudal, Temanggung. Ini menemani anak untuk belajar edukasi lebah. Sangat bermanfaat dan saya lihat anak-anak juga antusias," katanya. (dev/aro)
Editor : H. Arif Riyanto