RADARMAGELANG.ID, Magelang—Kehadiran angkutan roda tiga Bajaj di Kota Magelang memicu persaingan dengan angkutan umum.
Sejumlah sopir angkot mengaku penumpang dan pendapatan mereka menurun sejak adanya transportasi umum berbasis aplikasi tersebut di jalanan Kota Magelang.
Sopir angkot Darmanto, 64, mengaku sudah mengamati kehadiran Bajaj yang sering melintas di jalanan Kota Magelang. Ia mengaku, jumlah penumpangnya mulai menurun karena sudah banyak yang beralih ke transportasi ini. “Ya, berkurang, sebagian udah naik Bajaj, nggak naik angkot,”keluh Darmanto, Kamis (10/9/2026).
Menurut Darmanto, harusnya Bajaj tak diizinkan mengaspal di Kota Magelang karena sudah ada layanan ojek online seperti Gojek dan Grab. Ia menilai tarif Bajaj pun tidak jauh berbeda dengan ojek online.
Baca Juga: Bajaj Online Masuk Magelang, Dishub Imbau untuk Kulonuwun
“Sebagian warga beralih menggunakan Bajaj karena dinilai fleksibel untuk rombongan kecil dan dapat memberikan perlindungan saat panas,” katanya.
Keluhan serupa diungkapkan Ngaliman, 50, yang sudah menjadi sopir angkot selama 20 tahun dan sudah berganti-ganti jalur. Ia pernah menarik di jalur 2 (Tidar Keliling), jalur 4, hingga jalur 10 yang beroperasi dari pagi hingga sore. Selama ada Bajaj, ia juga mengaku penumpang dan pendapatannya menurun. Sebab, warga kini mulai terbiasa menggunakan Bajaj yang dianggap lebih praktis dan bisa dipesan lewat aplikasi.
Meski demikian, Ngaliman tidak terlalu mempermasalahkan kehadiran Bajaj. Sebab, hal itu sudah menjadi bagian dari perkembangan zaman yang serba praktis dan banyak transportasi berbasis aplikasi. (mg7/mg1/aro)
Editor : H. Arif Riyanto