RADARMAGELANG.ID, Magelang – Universitas Tidar (Untidar) Magelang menghadirkan Nico Schleicher, seniman visual asal Vienna, Austria, untuk belajar seni pahat batu di Plumpung, Kabupaten Magelang selama 2 bulan.
Kehadirannya menjadi sinyal bahwa warisan pahat batu Magelang memiliki relevansi global, di tengah ancaman krisis regenerasi seniman lokal.
Dalam Seminar Internasional "Cultural Heritage, Art, and Sculpting" di Auditorium Lantai 6 Gedung Rektorat Sidotopo tersebut, Nico menekankan pentingnya perspektif lintas budaya dalam seni.
“My way of doing art is a lot about observing things and trying to translate them in a visual or poetic way... how you see it and how I see it can be completely different," ujarnya.
Ia menyebut filosofi hidup dan keramahan masyarakat lokal sebagai daya tarik utama yang memberi dimensi baru pada karyanya.
Ketua Pusat Studi Kajian Kepariwisataan dan Kebudayaan LPPM Untidar, Mahendradi menegaskan keterampilan memahat batu candi adalah warisan adiluhung Magelang yang butuh intervensi strategis.
"Tanpa adanya intervensi strategis, kita berisiko kehilangan keahlian otentik ini di masa depan. Untidar berkomitmen untuk hadir mengurai permasalahan tersebut agar nilai budaya ini tidak hilang dari tanah asalnya," tegasnya.
Senada, pengelola Sanggar Saranakarya Plumpung, Septian Puji Andrianto mengingatkan kebudayaan bukan sekadar komoditas pariwisata.
“Kebudayaan adalah identitas yang menyatu dengan manusia, ruang, dan tata nilai kehidupan masyarakat. Ruang diskusi seperti ini krusial untuk menumbuhkan rasa bangga generasi muda," katanya.
Sebagai langkah nyata, Untidar mengkolaborasikan 3 prodi lintas disiplin: Pariwisata, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Administrasi Negara. Sinergi ini mengkaji pariwisata budaya berkelanjutan, promosi global, hingga pengawalan regulasi perlindungan seniman dan cagar budaya.
Rektorat Untidar merencanakan Focus Group Discussion berbasis pentahelix. Forum itu akan melibatkan Pemkab Magelang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pariwisata, penyedia material, dan komunitas seni lokal untuk merumuskan evidence-based policy dan aksi pelestarian di lapangan. (rfk)