RADARMAGELANG.ID, Magelang - Komunitas Gabut, nama yang terdengar santai, bahkan terkesan main-main. Namun di balik nama "Gabut", tersimpan gerakan serius yang lahir dari keresahan terhadap dunia pendidikan.
Komunitas yang merupakan singkatan dari Give and Be Useful to Us ini berfokus pada pembinaan karakter anak-anak melalui metode belajar playful, yang dinilai mampu menumbuhkan semangat belajar sekaligus mempermudah memahami karakter masing-masing anak.
Komunitas ini dibentuk oleh Hendri Saputra, yang akrab disapa Dendit. Berawal dari keresahannya terhadap permasalahan pendidikan, khususnya menyangkut moral dan karakter.
"Ini terwujud dari keresahan hati dan permasalahan pendidikan di Magelang," ujar Dendit.
Ia tergerak membentuk wadah bagi anak-anak yang membutuhkan akses pendidikan.
Kegiatan perdana dimulai dengan mengajar bahasa Inggris di Panti Asuhan Ar-Rohman untuk mempersiapkan anak-anak mengikuti seleksi Bidikmisi.
Setelah berjalan lima bulan tanpa nama resmi, Dendit bersama Nova, Fita, dan Danar akhirnya meresmikan nama "Gabut" pada 19 Juni 2019.
Pada masa awal, kegiatan komunitas ini masih berkutat pada dua program, yakni Lapak Buku dan Talk Show.
Barulah pada awal 2021, komunitas ini merintis program desa binaan bertajuk Rumah Kreasi di Dusun Ngiwon, Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.
Anggotanya terdiri dari pelajar SMP hingga mahasiswa yang memiliki minat di bidang pendidikan.
Pembelajaran dirancang di luar ruangan dengan fasilitas sederhana. Misalnya plastik yang dibentuk menjadi buket berisi tanaman-tanaman di sekitar lokasi.
Sembari bermain mencari tanaman, anak-anak diberi pengetahuan bahasa Inggris terkait tanaman yang mereka temukan.
Melalui metode ini, anggota Komunitas Gabut dapat lebih mudah menilai dan memahami karakter setiap anak untuk kemudian dibina.
Menariknya, seluruh operasional komunitas ini, termasuk desa binaan, murni dijalankan dari kas anggota Rp5.000 per bulan.
Komunitas Gabut juga membuka jalur donasi yang biasanya terkumpul lewat kolaborasi dengan pihak lain.
Seperti BEM KM Untidar maupun komunitas lain, saat menjalankan program bersama.
Dalam perjalanannya, Komunitas Gabut menghadapi tantangan berupa seleksi alam di kalangan anggota yang menguras sumber daya manusia (SDM) komunitas.
Kondisi ini turut menghambat rencana besar untuk memperluas titik lokasi desa binaan, sehingga fokus kegiatan untuk sementara hanya dapat dijalankan di satu desa binaan.
Dendit berharap semakin banyak pihak turut berkontribusi bagi dunia pendidikan.
"Ayo kita bersama-sama berkontribusi ke masyarakat terkait pendidikan. Karena faktanya fasilitas pendidikan di negara ini sangat dikesampingkan. Mulai dari akses pendidikan hingga gaji para guru," ujarnya. (jihan zalfatul/diah ardi/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo