Shelter Ngesengan Kota Magelang Ditinggalkan Pedagang, Sepi Pengunjung, Tinggal 4 Kios yang Buka

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 07:12 WIB
Deretan kios di Shelter kuliner Ngesengan Kota Magelang semakin sepi pembeli, Selasa (1/9/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Deretan kios di Shelter kuliner Ngesengan Kota Magelang semakin sepi pembeli, Selasa (1/9/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang—Shelter kuliner Ngesengan di Jalan Tentara Pelajar Kota Magelang mulai ditinggalkan pedagang lantaran sepi pengunjung.

Setelah direlokasi ke lantai dua, kini tinggal empat dari 22 kios kuliner yang masih buka melayai pembeli. Mereka mencoba bertahan meski sepi pembeli.

Di antaranya kuliner kupat tahu dan wedang ronde.

Aida Nur Safitri, pengelola Kupat Tahu Pak Slamet mengaku, mengalami penurunan omzet yang signifikan. “Dibandingkan pendapatan warung yang dulu ya jauh banget, hampir 50 persen bedanya. Tapi kita tetap telaten sih Mbak, tetap buka,” ujar pedagang yang akrab disapa Aida ini kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (1/9/2026).

Aida Nur Safitri, pengelola Kupat Tahu Pak Slamet cabang kuliner Ngesengan Kota Magelang, Selasa (1/9/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Aida Nur Safitri, pengelola Kupat Tahu Pak Slamet cabang kuliner Ngesengan Kota Magelang, Selasa (1/9/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)

Aida mengatakan, penyebab sepinya pembeli di kiosnya karena kurangnya promosi yang diberikan.

Selain itu, pelanggannya banyak yang tidak mengetahui jika Kupat Tahu Pak Slamet direlokasi di lantai dua Shelter Ngesengan.

“Kebanyakan tamu (pelanggan) yang datang ke sini tuh nggak tahu kalo ternyata kita direlokasi di lantai dua. Mungkin reklamenya kurang keliatan jelas, kecuali kalau dipasangnya di sisi seberang ya mbak,” kata pengelola kuliner yang sudah berjualan sejak 1990-an ini.

Selain itu, lanjut dia, tangga naik ke lantai dua menyulitkan pengunjung, terutama yang sudah sepuh. 

Akses jalan menuju lantai dua yang berupa tanjakan tanpa anak tangga menjadi salah satu penyebab berkurangnya kunjungan pembeli.

“Kebanyakan penikmat kupat tahu kan orang-orang sepuh ya mbak, mereka mau naik itu aras-arasan. Daripada naik, cari yang lain aja gitu,” tutur Aida.

Kendala lainnya datang dari lahan parkir yang terkadang sudah dipenuhi oleh pengunjung toko di seberang Kawasan Ngesengan.

Menurut Aida, lonjakan pengguna parkir di hari biasa tidak terlalu berdampak. Namun pada masa prepegan di bulan puasa, membuat lahan parkir ramai kendaraan pengunjung toko di depan shelter. 

“Parkir tuh penuh sama pengunjung toko yang datang. Jadi, misalnya ada tamu yang mau mampir makan, begitu lihat parkirannya penuh akhirnya memilih bablas,” keluhnya.

Para pedagang Shelter Ngasengan yang masih bertahan berharap Pemerintah Kota Magelang dapat memberikan dukungan yang nyata.

Solusi yang diharapkan, khususnya melalui penguatan sarana promosi dan periklanan yang lebih terarah di area depan Shelter Ngasengan agar calon pembeli bisa mengetahui keberadaan kios-kios kuliner di lantai dua. 

Selain itu, Aida juga berharap adanya perhatian untuk kiosnya yang seringkali tidak ter-notice dari pandangan pengunjung.

Menurutnya, keberadaan dinding pembatas di dekat akses jalan menuju lantai dua menghalangi visibilitas deretan kiosnya dari pengunjung yang baru saja naik.

Akibatnya, arus pengunjung lebih banyak ke deretan kios di sisi tertentu, sementara kiosnya jarang terlihat. 

“Tembok ini kalau bisa dihilangkan aja karena tamu biasanya begitu naik ya sudah langsung ke sana, tahunya yang sebelah sini itu bangunan tertutup gitu loh,” harapnya. (mg10/mg3/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
Shelter Ngesengan sepi kupat tahu kuliner Kota Magelang