RADARMAGELANG.ID, Magelang—Upaya Pemkot Magelang mengoptimalkan layanan transportasi angkutan sekolah gratis masih menemui kendala di lapangan. Dari target menambah kemitraan untuk 20 unit mobil angkot, hanya enam yang bisa terealisasi di anggaran perubahan 2026.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Magelang M Yunus menjelaskan, minimnya penambahan jumlah armada bukan disebabkan keterbatasan anggaran, melainkan penyedia jasa tidak mampu memenuhi kriteria standar pelayanan minimal (SPM) yang dipersyaratkan. “Kami menetapkan batas usia kendaraan untuk program Jempol maksimal 15 tahun," kata Yunus, Rabu (26/8/2026).
Jika lebih dari usia itu, pemkot tak bisa menggunakannya. Yunus berujar, batas usia tersebut ditetapkan demi memberikan kenyamanan dan keamanan penumpang Jempol, yakni para pelajar.
Pihaknya mengakui, kendala peremajaan armada dari para pengusaha angkutan membuat pemenuhan target unit dilaksanakan secara bertahap. Di anggaran
penetapan 2026, Pemkot Magelang telah mengalokasikan untuk 27 armada dan menambah enam unit di APBD Perubahan. “Jadi, jumlah armada Jempol di tahun 2026 ada 33 unit,” ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan pada pelaksanaan, Yunus mengakui program Jempol memberikan dampak positif terhadap berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi di jam sekolah.
Masyarakat yang telah menerima manfaat program ini pun turut memberikan respon positif. Meski begitu, ia tetap menampung masukan dan melakukan evaluasi demi perbaikan ke depan.
Salah satu yang disoroti saat ini adalah minimnya peminat pelajar menaiki angkot Jempol pada putaran pertama.
Sebab, angkot Jempol akan mulai beroperasi pada pukul 05.30 hingga 07.00.
“Keterisian penumpang di sesi pertama lebih sedikit, karena mereka tidak mau tiba di sekolah terlalu pagi,” terangnya.
Alhasil, terjadi penumpukan pelajar yang akan menaiki angkot di putaran selanjutnya.
Inilah yang membuat banyak pelajar yang kemudian tidak terangkut dan kembali menggunakan kendaraan pribadi untuk berangkat sekolah. Sebab, kapasitas penumpang untuk setiap angkot hanya 14 orang.
“Beda dengan pagi hari, di jam pulang sekolah, kapasitas angkot Jempol relatif penuh terus,” terangnya.
Selain jumlah angkutan yang masih sedikit untuk program Jempol, hasil evaluasi internal juga menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah (PR) perihal rute penjemputan.
Saat ini baru ada delapan rute, dari A-H yang melewati SD dan SMP, Belum melewati SMA. Sementara penambahan enam armada belum diperuntukkan membuka rute baru, dan masih untuk memperkuat rute yang ada,” ungkapannya.
Ke depan, selain menambah jumlah armada, pihaknya juga akan menambah jumlah rute agar sebaran angkot Jempol lebih merata.
Jihan, salah satu pelajar SMP di Kota Magelang ini mengaku senang dengan adanya program angkot Jempol.
Ia pun kerap menggunakan, karena dapat mengirit ongkos pergi ke sekolah.
“Seru bisa ngobrol-ngobrol sama teman di angkot. Lebih aman dan lebih irit,” ucapnya.
Marsono, 65, sopir angkot program Jempol mengaku, penumpang pelajar pada pagi hari rata-rata 10 anak.
Sebagian besar pelajar masih diantar orang tua.
Sebaliknya, saat jam pulang sekolah, jumlah penumpang kisaran 20 anak.
“Selama ini belum ada kendala terhadap program ini,” akunya.
Sopir lain, Ismanto, 46, mengaku baru bergabung program JEMPOL pada Juni 2026 lalu.
Ia menerima subsidi dari Dishub yang dibayarkan setiap lima hari sekali sebesar Rp700 ribu.
Sebelum mengikuti program ini, ia mengaku penghasilannya Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari.
Bagi sopir yang tidak memiliki angkot pribadi, wajib setor harian ke pemilik kendaraan berkisar Rp80 ribu per hari.
Ia berharap agar program JEMPOL tetap berjalan sebagai solusi transportasi yang aman dan gratis bagi pelajar di Kota Magelang, sekaligus membantu keberlangsungan usaha para sopir angkot.
“Harapannya, meski nanti ganti wali kota, program ini bisa tetap berlanjut karena sangat menguntungkan, baik bagi sopir maupun pelajar,” ujarnya. (put/mg5/mg6/aro)
Editor : H. Arif Riyanto