Ruang Khayal Anak, 40 Karya Lukis Anak Magelang Dipamaerkan Tanpa Seleksi dan Kurasi

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:37 WIB
Para siswa SMP di Kota Magelang tampak antusias melihat-lihat hasil karya yang terpampang di pameran Ruang Khayal Anak #1, serta melukis. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)
Para siswa SMP di Kota Magelang tampak antusias melihat-lihat hasil karya yang terpampang di pameran Ruang Khayal Anak #1, serta melukis. (ROFIK SYARIF/ JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Munkid— Sebanyak 40 karya lukis dari 30 anak di Kota Magelang dipamerkan dalam pameran Ruang Khayal Anak #I.

Pameran ini sengaja dibuat tanpa tema, tanpa seleksi, dan tanpa kurasi untuk membebaskan imajinasi anak. 

“Kita membebaskan apa yang digambar atau dilukis oleh anak-anak. Jadi kita tidak membatasi tema karyanya. Tetapi kita membebaskan khayalan-khayalan, imajinasi-imajinasi itu dibahasakan dengan cara bahasa visual,” kata Kaji Habib, perwakilan panitia acara.

Pameran ini diinisiasi oleh komunitas seni rupa dari Kelompok Yangitu Kota Magelang yang terdiri atas Kaji Habib, Oentoeng Noegroho, Tommy Merdeka, dan Wahudi.

Diselenggarakan di Loka Budaya Kota Magelang, pameran ini berlangsung hingga 27 Agustus.

Pameran ini digelar sebagai jawaban atas minimnya ruang apresiasi bagi karya anak di luar kompetisi.

“Selama ini anak-anak itu berkaryanya berada dalam ruang lomba. Itu terpaku atau terkurung dengan syarat, ketentuan, kemudian aturan-aturan, kemudian tema. Sehingga karyanya itu terasa stereotip. Gayanya hampir sama semua," jelas Kaji Habib.

Dalam mengumpulkan karya-karya ini, panitia membuka pendaftaran secara umum melalui media sosial, sekolah, dan guru seni.

Sasaran peserta mulai PAUD/TK hingga kelas 6 SD. 

"Kami open call dan tidak kami kurasi. Usianya PAUD/TK sampai 6 SD. Siapa saja boleh ikut, terus tidak kami kurasi. Setiap yang mengirim bagaimanapun bentuknya, apapun gayanya, apapun bentuknya, kita pamerkan," ujarnya.  

Hasilnya di luar dugaan.

"Ternyata potensi anak-anak yang di Magelang ini sangat besar. Sangat di luar perkiraan kami, ternyata bagus gitu, bagus," katanya. 

Menurutnya, selama ini banyak karya anak yang "mubazir" karena hanya karya pemenang lomba yang dipublikasikan.  

"Kalau lomba itu yang dilihat oleh khalayak umum atau dipublish itu yang menang saja. Sedangkan yang tidak menang tersimpan, bahkan enggak tahu hilang kemana. Nah, ini kayaknya kami rasa sia-sia, mubazir, dan mesakke. Anak-anak tidak terapresiasi dengan baik," tegasnya. 

Selain pameran, pengunjung juga bisa berekspresi langsung di area "Laboratorium Ruang Khayal Anak".  

"Di situ pengunjung yang masuk itu boleh mengekspresikan apa saja. Terutama anak-anak. Tapi orang dewasa pun boleh. Kenapa kami sebut laboratorium? Karena sebagaimana laboratorium itu kan ada penelitian, ada pengolah, nanti ada inovasi-inovasi," jelasnya.  

Panitia menargetkan "Ruang Khayal Anak" menjadi agenda rutin. Setelah edisi TK-SD, selanjutnya akan digelar untuk SMP dalam empat bulan ke depan, lalu SMA, baru kembali lagi ke TK-SD. 

"Rencana kami memang begitu. Jadi, ada 'Ruang Khayal Anak' yang kedua. Tetapi kami juga akan mewadahi teman-teman anak-anak yang SMP maupun SMA. Dengan rentan waktu 4 bulan mendatang usia SMP. 4 bulan lagi usia SMA. Intinya adalah kebebasan berekspresi," pungkasnya. (rfk/aro)

 
 
Editor : H. Arif Riyanto
Seni lukis komunitas loka budaya pameran Kota Magelang