Menuntun Jejak Mandiri Anak-anak Autisme di Bina Anggita Kota Magelang

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 23:21 WIB


Desi Rahmawati selaku guru keterampilan bersama rekannya sedang mengajar teknik melukis dengan bubur kertas, Kamis (24/8/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)

 
Desi Rahmawati selaku guru keterampilan bersama rekannya sedang mengajar teknik melukis dengan bubur kertas, Kamis (24/8/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)  

RADARMAGELANG.ID, MagelangSekolah Khusus Autisme Bina Anggita Kota Magelang bergerak aktif  sejak 2008 mewujudkan kemandirian siswa-siswinya.

Lembaga pendidikan yang menaungi sebanyak 82 siswa dari tingkat TK, SD, SMP, sampai SMA ini dalam pembelajarannya didukung oleh 25 guru.

Sekolah di Kecamatan Magelang Utara ini dulunya berdiri di belakang Pasar Kebonpolo, sebelum akhirnya pada 2012 pindah dan menetap di eks bangunan SD Negeri Potrobangsan 5.

Di sekolah ini, bukan hanya memberikan pendidikan untuk penderita autisme semata, tapi juga penderita rett syndrome, cerebral palsy, lambat belajar, hingga hyper active.

Tingkatan usia muridnya pun beragam, mulai dari 4 sampai 18 tahun.

Bahkan, berdasarkan penuturan kepala sekolah Puji Astuti, sebelum diresmikan menjadi sekolah, tempat ini merupakan layanan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Sehingga pernah menerima anak berusia 18 bulan untuk mendapatkan pelayanan di sekolah ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Senin (24/8/2026).

Dikatakan Puji Astuti, asal murid di sekolah ini dari berbagai wilayah, Kota dan Kabupaten Magelang serta Kabupaten Temanggung.

Setiap harinya, Bina Anggita menerapkan tiga sesi waktu dan kelas.

Pagi hari dimulai pukul 07.00-10.00, siang hari pada pukul 10.00-12.00, dan sesi terakhir pukul 12.30-14.30,” bebernya.

Adapun kelasnya terbagi kelas reguler yang dikhususkan untuk murid yang sudah cukup kondusif.

Juga kelas terapi dan kelas keterampilan.

Proses belajar-mengajar di Sekolah Khusus Autisme Bina Anggita Kota Magelang, Kamis (24/8/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)

 
Proses belajar-mengajar di Sekolah Khusus Autisme Bina Anggita Kota Magelang, Kamis (24/8/2026). (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)  

Kurikulum pembelajaran yang digunakan, lanjut dia, tetap mengikuti kurikulum pemerintah.

Namun diturunkan mengikuti tingkat kemampuan anak.

Sama halnya dengan kelas keterampilan, yang diajarkan juga menyesuaikan dengan kemampuan tiap anak. Ada yang membuat keset, kemoceng, hiasan dari bubur kertas yang diwarnai, hingga ecoprint dari dedaunan,” jelasnya.

Dikatakan, kegiatan belajar mengajar yang dilakukan tak luput dari kendala dan tantangan.

Desi Rahmawati, salah satu guru keterampilan mengungkapkan, dalam mengajar muridnya, tantangan terbesar ada pada kontrol emosi dari muridnya sendiri.

Ngajarin keterampilannya mudah, yang sulit itu mengarahkannya. Misalnya diarahin buat hati-hati, jangan tercoret, nanti anaknya langsung ngamuk,” ucap Desi sembari melukis hiasan.

Meskipun demikian, para murid tetap aktif berpartisipasi dalam berbagai perlombaan.

Dengan keterbatasan mental, komunikasi, dan sosial, keterlibatan murid autisme merupakan capaian yang patut dibanggakan. 

“Itu udah benar-benar luar biasa, karena anak udah bisa mengikuti aja sudah Alhamdulillah,” ucap syukur Puji Astuti.

Salah satu orang tua murid, Novi Indah Lestyarini, menuturkan, program sekolah yang rutin diberikan dengan melibatkan orang tua adalah parenting.

Program ini diadakan oleh Bina Anggita setiap enam bulan sekali.

Kepala Sekolah Khusus  Autisme Bina Anggita Kota Magelang Puji Astuti. (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Kepala Sekolah Khusus  Autisme Bina Anggita Kota Magelang Puji Astuti. (MARDIANA PUTRI KURNIAWAN/JAWA POS RADAR MAGELANG)

Selain itu, ia menyampaikan, salah satu program utama yang dilakukan yaitu Bina Diri atau kemandirian anak.

“Tergantung kemampuan anak, tapi semua (orang tua) mintanya Bina Diri biar kelak bisa mandiri pas udah dewasa, biar nggak tergantung sama orang tua gitu,” jelas Novi.

Perkembangan tumbuh kembang anak tentunya tak lepas dari dukungan orang tua murid.

Erna Dewi Astuti, salah satu orang tua murid penderita rett syndrome menjelaskan, program terapi yang ditempuh anaknya meliputi arahan dari psikolog untuk menerapkan pendekatan lingkungan dengan memberkan waktu tanpa distraksi kepada anak selama 15 menit hingga 30 menit.

Dalam berkomitmen untuk memberikan pendidikan yang layak bagi penderita autisme, Sekolah Khusus Autisme Bina Anggita berharap untuk peningkatan infrastruktur sekolahnya.

“Mudah-mudahan nanti bisa berkembang dan punya gedung sendiri yang lebih representatif, bisa mewadai anak-anak di sarana prasarana yang lebih memadai,” harap Puji Astuti. (mg10/mg3)

 

Editor : H. Arif Riyanto
sekolah autis kebonpolo Potrobangsan berkebutuhan khusus Kota Magelang