Bangkitkan Layanan Perpustakaan  Ramah Disabilitas lewat Literasi Tidar

Puput Puspitasari • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:59 WIB
Seorang pengunjung Perpustakaan Umum Kota Magelang membuka buku braille yang tersedia di perpustakaan, Jumat (21/8/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Seorang pengunjung Perpustakaan Umum Kota Magelang membuka buku braille yang tersedia di perpustakaan, Jumat (21/8/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Perpustakaan Umum Kota Magelang bersiap membangkitkan kembali layanan bagi disabilitas.

Pihaknya merancang program Literasi Tidar (Tempat Inklusif bagi Disabilitas yang Aman dan Ramah) menjadi ruang belajar interaktif bagi disabilitas, bahkan bagi masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu inklusivitas. 

Kabid Penyelenggaraan Perpustakaan Dhani Rusman menjelaskan, melalui inovasi Literasi Tidar, perpustakaan akan dikembangkan menjadi pusat aktivitas komunitas yang dinamis. Program ini nantinya diisi dengan kegiatan mendongeng  bahasa isyarat, pelatihan kerajinan tangan, hingga mengakomodasi berbagai karya tulis dari para disabilitas.  Selain itu, pihaknya akan mengadakan pelatihan bahasa isyarat dan braille bagi masyarakat umum yang tertarik mempelajarinya. “Kami ingin perpustakaan menjadi rumah belajar yang terbuka bagi semua warga tanpa kecuali,” katanya, Jumat (21/8/2026).

Terhadap fasilitas bagi disabilitas, menurut Dhani, sudah cukup lengkap. Pihaknya menyediakan perangkat komputer yang dilengkapi dengan fitur suara, sehingga memudahkan bagi tunanetra untuk mengoperasikannya. Ia juga menyediakan 3.000 koleksi buku braille, serta perangkat printer.

Guna memastikan fasilitas yang disediakan tepat sasaran, dalam waktu dekat ini, pihaknya berencana mengundang kepala sekolah, guru sekolah luar biasa (SLB), relawan disabilitas, dan disabilitas aktif di Kota Magelang. Pertemuan itu bertujuan untuk evaluasi sekaligus menjaring masukan terkait kendala aksesbilitas. Bersamaan dengan itu, pertemuan tatap muka itu demi merancang program dan penyediaan fasilitas yang benar-benar sesuai kebutuhan disabilitas secara inklusif, baik bagi disabilitas dengan kendala fisik, intelektual, maupun sensorik.  “Karena selama ini, tingkat kunjungan harian bagi disabilitas masih minim. Namun, mereka sangat antusias mengikuti berbagai pelatihan yang kami adakan,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kota Magelang Sarwo Imam Santoso menambahkan, pihaknya menaruh perhatian tinggi terhadap penyandang disabilitas. Komitmen ini juga turut mendukung program unggulan Pemkot Magelang, yakni Berdikarikan Disabilitas. “Kami ingin, perpustakaan menjadi ruang inklusif yang melayani kebutuhan literasi hingga pemberdayaan ekonomi penyandang disabilitas,” imbuhnya.

Guna mengatasi keterbatasan kemampuan berbahasa isyarat dan membaca huruf braille di kalangan petugas, pihaknya menggandeng relawan terampil untuk mendukung pelayanan. Dengan berbagai rencana dan terobosan yang telah dilakukan, Imam berharap bahwa perpustakaan bisa membangun dan mewujudkan ekosistem ramah disabilitas. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
braille literasi disabilitas Tidar perpustakaan