Kelurahan Kedungsari Jadi Pusat Inovasi Pertanian Modern di Kota Magelang

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 06:35 WIB
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono saat panen raya di Smart Greenhouse Aquaponik Lapangan Multiguna Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Kamis (20/8/2026).
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono saat panen raya di Smart Greenhouse Aquaponik Lapangan Multiguna Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, Kamis (20/8/2026).

RADARMAGELANG.ID, Magelang Lapangan Multiguna Kedungsari, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang, bertransformasi menjadi pusat inovasi pertanian modern melalui pengembangan Smart Greenhouse Aquaponik.  

Program strategis ini merupakan kolaborasi antara Pemkot Magelang dengan Universitas Tidar.

Fasilitas ini dihadirkan tidak hanya difungsikan sebagai sarana pertanian, melainkan dirancang sebagai model pemberdayaan masyarakat secara terpadu di kawasan perkotaan, serta mendukung kemandirian pangan lokal. 

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menyebut Kedungsari sebagai ruang praktik bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di kampus secara langsung di tengah masyarakat.

Model aquaponic yang diterapkan, menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem, sementara konsep smart farming diarahkan untuk penerapan pertanian yang sesuai dengan kondisi lahan perkotaan.

“Kota Magelang ini bisa menjadi laboratorium, bisa menjadi lokus kerja nyata dari mahasiswa,” ujar Damar usai panen raya di Smart Greenhouse Aquaponik, Kamis (20/8/2026).

Damar menyampaikan, program unggulan pemkot saat ini adalah pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan.

Ia bahkan mencontohkan langsung di rumah dinasnya. 

“Kita punya program urban farming yang terus digalakkan di Kota Magelang. Termasuk saya sendiri di rumah dinas itu wis rupane saiki kayak kebon, Pak. Jadi, sebelah itu wis tak tanduri sawi, macam-macam,” ujarnya. 

Ia menilai kunci kemajuan kota ada di kampung.

“Kuncinya itu dari kampung! Nek kampunge kabeh apik, kampunge kabeh masyarakate pinter, sejahtera, nggih kondusif, semuanya akan baik. Kuncinya di kampung-kampung,” tandasnya. 

Ia menegaskan, pengembangan smart farming membutuhkan kolaborasi lintas sektor melalui konsep hexahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, serta regulasi.

“Keberhasilan program ini tidak hanya ditentukan oleh keberadaan greenhouse, tetapi juga oleh sejauh mana fasilitas tersebut digunakan dan mampu menghasilkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat Kedungsari,” tuturnya.

Sementara itu, inisiatif inovasi ini merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PKK Ormawa) yang dimotori oleh tim mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Tidar.

Wakil Rektor Universitas Tidar Prof Parmin menjelaskan, PPK Ormawa merupakan program Kementerian Pendidikan Tinggi yang berkolaborasi dengan Kementerian Desa serta pemerintah daerah di seluruh Indonesia.

Tahun ini terdapat 220 titik kegiatan pemberdayaan masyarakat yang memperoleh pendanaan pemerintah pusat. Jumlah tersebut disaring dari hampir 3.000 proposal yang masuk ke kementerian. “Tahun ini Universitas Tidar menempati peringkat kedua secara nasional sebagai perguruan tinggi dengan jumlah pendanaan terbanyak,” kata Parmin.

Meski demikian, tantangan program tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Universitas Tidar menyatakan akan melanjutkan pengembangan Smart Greenhouse Aquaponik agar program tersebut tetap berjalan setelah 2026. Selain itu, Kedungsari ditargetkan masuk dalam 12 desa atau kelurahan terbaik pada seleksi nasional program tersebut.  (put/rfk/aro)

 

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
Aquaponic Kedungsari urban farming Universitas Tidar Magelang Wali Kota Magelang Damar Prasetyono