Kader Hebat, Remaja Sehat,Stunting Lenyap: Pengabdian kepada Masyarakat Prodi Kebidanan Magelang di Desa Salam

Lis Retno Wibowo • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:21 WIB
Tim pengabdian kepada masyakat Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan edukasi pencegahan stunting  pada Remaja di Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. (Dok Tim PKM Kebidanan)
Tim pengabdian kepada masyakat Prodi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang mengadakan edukasi pencegahan stunting  pada Remaja di Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Rabu (19/8/2026). (Dok Tim PKM Kebidanan)

 

RADARMAGELANG.ID, Mungkid - Upaya pencegahan stunting tidak hanya dimulai saat seorang ibu hamil atau ketika bayi telah lahir.

Pencegahan stunting perlu dipersiapkan sejak masa remaja melalui peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku hidup sehat. 

Berangkat dari pemikiran tersebut, dosen dan mahasiswa Program Studi Kebidanan Magelang Poltekkes Kemenkes Semarang turut mengambil peran melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang pada Rabu (19/8/2026).

Baca Juga: Optimalisasi Peran Kader Kesehatan, Langkah Nyata Desa Kalijoso Perkuat Penanganan Stunting

Kegiatan bertajuk “Penguatan Peran Kader dalam Pencegahan Stunting melalui Edukasi Kesehatan dan Kesejahteraan pada Remaja di Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang” ini mengusung semangat “Kader Hebat, Remaja Sehat, Stunting Lenyap.”

Tim diketuai Arfiana dengan anggota Arum Lusiana, Bekti Yuniyanti, Munayarokh dan mahasiswa.

Para peserta memperoleh penguatan kapasitas agar mampu menjadi penggerak edukasi kesehatan di lingkungan masyarakat, khususnya dalam mendampingi remaja.


Remaja, Generasi Penting dalam Pencegahan Stunting

Masa remaja merupakan periode penting dalam membentuk kualitas kesehatan generasi mendatang.

Kebiasaan makan, aktivitas fisik, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, kebersihan diri, serta perilaku hidup sehat yang terbentuk sejak remaja dapat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan pada masa dewasa dan kehidupan reproduksi.

Karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkelanjutan dan lintas tahapan kehidupan.

 "Remaja perlu dibekali pengetahuan mengenai gizi seimbang, aktivitas fisik, kesehatan reproduksi, pencegahan anemia, kesehatan mental, serta pentingnya menghindari perilaku berisiko. Melalui kegiatan ini, kader didorong tidak hanya berperan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai penggerak dan pendamping remaja di tingkat desa,"ungkap Ketua Tim Pengabdian Arfiana.

Kader sebagai Penggerak Kesehatan di Masyarakat
Penguatan kapasitas kader dilakukan melalui berbagai metode pembelajaran yang interaktif, antara lain ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, dan simulasi.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kegiatan edukasi di masyarakat.

Kader mendapatkan pembekalan mengenai konsep stunting dan faktor risikonya, kebutuhan gizi remaja, pentingnya aktivitas fisik, kesehatan reproduksi, pencegahan anemia, kesehatan mental, serta perilaku hidup sehat.

Selain memahami materi, kader juga dilatih untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada remaja dengan komunikasi yang sederhana, menarik, dan sesuai dengan karakteristik kelompok usia remaja.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat kader lebih percaya diri dalam memberikan edukasi sekaligus mampu mengenali permasalahan kesehatan yang membutuhkan perhatian dan tindak lanjut.

Dari Edukasi Menuju Perubahan Perilaku
Kegiatan pengabdian ini tidak berhenti pada penyampaian materi.

Edukasi diarahkan agar kader mampu mengubah informasi menjadi pesan kesehatan yang aplikatif.

Remaja diajak memahami bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama.

Menjaga pola makan bergizi, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menjaga kebersihan diri, mencegah anemia, menjaga kesehatan reproduksi, serta memperhatikan kesehatan mental merupakan bagian dari investasi kesehatan jangka panjang.

Kader memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat.

Dengan pendampingan yang berkelanjutan, kader dapat menjadi jembatan antara remaja, keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan.


Sinergi Dosen, Mahasiswa, Kader, dan Masyarakat
Kegiatan ini juga menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan masyarakat.

Dosen berperan memberikan penguatan pengetahuan dan keterampilan, sementara mahasiswa terlibat secara aktif dalam proses edukasi dan pendampingan.

Kolaborasi tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu kebidanan secara langsung di masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat memperoleh akses terhadap informasi kesehatan yang relevan dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh kader dapat terus digunakan untuk mendukung kegiatan kesehatan remaja di Desa Salam.

Kader Hebat, Remaja Sehat, Stunting Lenyap
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, Prodi Kebidanan Magelang berkomitmen untuk terus mendukung upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya melalui pemberdayaan kader dan edukasi kepada remaja.

Kader hebat bukan hanya kader yang mengetahui informasi kesehatan, tetapi kader yang mampu menggerakkan masyarakat untuk hidup lebih sehat.

Remaja sehat bukan hanya bebas dari penyakit, tetapi remaja yang tumbuh dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesejahteraan yang baik.

Dari Desa Salam, langkah kecil untuk membangun generasi sehat terus dimulai.

Dengan kader yang semakin berdaya, remaja yang semakin sadar kesehatan, serta dukungan keluarga dan masyarakat, pencegahan stunting dapat dilakukan sejak dini dan berkelanjutan. Kader Hebat, Remaja Sehat, Stunting Lenyap. (rls/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
Prodi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang desa salam kecamatan salam pencegahan stunting Pengabdian kepada masyarakat