Pedagang Pasar Rejowinangun Kota Magelang Bertahan dengan Dagang Secara Konvensional

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 18:44 WIB
Salah satu pedagang di Rejowinangun Kota Magelang sedang menimbang dagangan. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Salah satu pedagang di Rejowinangun Kota Magelang sedang menimbang dagangan. (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
 
RADARMAGELANG.ID, Magelang - Pedagang pasar tradisional menghadapi kesulitan besar. Meski harus bersaing dengan toko online, mereka memilih bertahan dengan transaksi konvensionalnya.

Model dagang ini tetap dilanjutkan bukan karena tak ingin melek teknologi, atau biar tak ketinggalan zaman. Mereka hanya ingin pasarnya ramai. Banyak pembeli datang, pasar menjadi lebih hidup.

"Bukan nggak mau jualan online, tapi kami ingin pasar ini ramai. Banyak yang datang ke pasar tradisional seperti dulu," ujar Parminah, penjual pakaian di Pasar Rejowinagun kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Bagi Parminah, transakai jual beli di pasar bukan sekadar penjual mencari untung, pembeli mencari kebutuhan. Lebih dari sekedar itu, Parminah merasa banyak nilai-nilai kehidupan di sana. Ada welas asih, toleransi, komunikasi, dan semangat gotong royong.

"Kalau ketemu langsung, hubungan emosionalnya antara pembeli dengan pedagang itu ada. Jadi tambah sedulur," ucapnya.

Ia sudah membuktikan sendiri, sejak marak penjual online, para pelanggan setianya tetap datang. Mereka adalah reseller. "Alhamdulillah masih ada yang kulakan. Tapi harus telaten. Intinya, sekarang kita hanya bertahan," tuturnya.

Ditanya soal omzet harian, Parminah mengaku pendapatannya tak pasti. Namun ia merasakah bahwa penurunan itu sudah mencapai 50 persen. "Katakanlah dulu dapat Rp1 juta, sekarang Rp500 ribu," imbuhnya.

Senada dengan Yusie Any Dwi Rahayu, pedagang makanan ringan ini juga memilih bersabar. Menurutnya, kondisi saat ini benar-benar menguji mental pedagang. Karenanya, ia fokus berjualan dan tidak mempedulikan berita di luaran sana yang cenderung memprovokasi.

Yusis menyadari, kondisi perekonomian sulit tidak hanya dihadapi pedagang seorang. Tapi juga para pembeli. "Ekonominya memang sedang sulit. Daya beli masyarakatnya jadi ikut turun," imbuhnya.

Mensiasati kondisi ini, Yusie harus pandai menghitung setok. Sebab  aneka camilan yang dijualnya juga memiliki batas akhir konsumsi.

Seperti itu pula yang dirasakan Markonah, pedagang bumbu dapur. Agar pembelinya tetap bertahan, ia memilih mengambil untung sedikit.

Di momen kemerdekaan, ia mengatakan bahwa harga bumbu dapur cenderung stabil. Bahkan ada yang mengalami penurunan.

"Harga saat ini stabil, tidak ada kenaikan drastis. Bawang putih di kisaran Rp 33.000 per kilogram dan bawang merah Rp 30.000 per kilogram. Harapan kami harganya terus terjangkau dan tidak melonjak mahal," ujar Siti. (mg4/mg8/put/aro)
 
Editor : H. Arif Riyanto
Melek Teknologi konvensional online Pasar Rejowinangun Magelang gotong royong