RADARMAGELANG.ID, Magelang—Untuk menenuhi kebutuhan air bersih di Kota Magelang, pemerintah bakal membendung Sungai Elo dan dijadikan sumber air bagi PDAM Kota Magelang.
Sebab, selama ini, PDAM masih bergantung pada sumber air di daerah Bandongan dan Grabag, Kabupaten Magelang.
“Pengelolaan air sudah diusulkan untuk tahun 2028. Sungai Elo akan dibendung untuk sumber air PDAM Kota Magelang,” kata Wali Kota Magelang Damar Prasetyono saat sosialisasi Posyandu Bidang PU dan Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) di Pendopo Pengabdian Kota Magelang, Kamis (13/8/2026).
Data menunjukkan 70 persen air sudah tercemar bakteri E.coli. Artinya, air sudah tidak layak minum dan tidak sehat. Termasuk di Kota Magelang. Apalagi beberapa daerah di Magelang masih ada warga yang membuang kotoran limbah sembarangan, seperti di Kedungsari dan Wates.
Damar mengharapkan, agar peran dari TP Posyandu memahami persoalan air dan sanitasi, memberikan informasi dengan bahasa yang mudah untuk warga, dan mendorong warga agar saling menjaga lingkungannya.
“Pemerintah dan TP Posyandu harus sejalan, karena peran TP Posyandu di sini menghubungkan layanan yang ada dari pemerintah untuk disampaikan ke masyarakat agar memanfaatkan layanan tersebut,” katanya.
Ketua TP Posyandu Kota Magelang Nanik Yunianti mengatakan, sanitasi berpengaruh terhadap stunting. Sebab, sanitasi yang buruk menciptakan lingkungan yang penuh kuman, bakteri, virus, dan parasit. “Anak-anak yang hidup dan tumbuh di lingkungan buruk akan menyebabkan stunting dan terbukti berpengaruh,” tandasnya.
Ia berharap, warga bisa menerapkan penggunaan air yang sehat, jamban yang sehat, dan rutin sedot septic tank. Karena semua pekerjaan tak bisa dilakukan oleh pemerintah. Tetapi pemerintah dan warga harus bersinergi agar kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik dan sehat. “Mari kita tingkatkan standar kelayakan air di Magelang ini,” ajaknya.
Sekretaris Tembang Tidar Dhani Wardhani menuturkan, data air yang layak hanya 30 persen karena sisanya sudah tercemar, salah satu penyebabnya lantaran warga jarang menggunakan pelayanan sedot septic tank. Biasanya terjadi kebocoran pipa yang membuat aliran kotoran langsung tembus ke tanah.
“Banyak rumah yang septic tank-nya tidak ada penampung lumpur tinja. Jadi, pembuangan lumpur tinjanya langsung ke tanah yang seharusnya bisa diolah. Ini yang menyebakan air tanah tercemar,” katanya. (mg8/mg4/aro)
Editor : H. Arif Riyanto