Bukan Sekadar Medali: Perjalanan NusaFlow Membawa Gagasan Pelajar Indonesia ke Tingkat Internasional

Lis Retno Wibowo • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:25 WIB
Tim NusaFlow dari SMA Taruna Nusantara berhasil meraih silver medal dalam ajang International Youth Business Competition (IYBC) 2026 pada 19–23 Juni 2026 di Bali. (Dok tim NusaFlow)
Tim NusaFlow dari SMA Taruna Nusantara berhasil meraih silver medal dalam ajang International Youth Business Competition (IYBC) 2026 pada 19–23 Juni 2026 di Bali. (Dok tim NusaFlow)

 

Oleh : Abimanyu Langit Ramadhan*

RADARMAGELANG.ID, Magelang - Ketika seorang pelajar memenangkan kompetisi internasional, hal pertama yang sering dilihat adalah medali yang berhasil diraih. Nama sekolah dibanggakan, penghargaan dipublikasikan, dan kemenangan menjadi sebuah kebanggaan. 

Namun, bagi saya, hal yang paling berharga dari sebuah kompetisi bukan hanya hasil akhirnya, melainkan proses panjang yang membentuk cara berpikir, kerja sama, dan keberanian untuk membawa prestasi ini ke tingkat internasional.

Hal tersebut saya rasakan ketika bersama tim NusaFlow dari SMA Taruna Nusantara mengikuti International Youth Business Competition (IYBC) 2026 yang diselenggarakan pada 19–23 Juni 2026 di Bali.

Tim terdiri dari Abimanyu Langit Ramadhan, ⁠Ikbar Adika Devridanto, Aifi Queenla Angkasamudra Linuh, Raina Ezzah Ariestawati, Muhammad Bagus Bagaskara dan ⁠Enrico Orlnado Diwanto. 

Kompetisi ini diadakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan Universitas Warmadewa dan Sekolah Vokasi Universitas  Diponegoro.

Acara ini diikuti 116 tim dari dalam dan luar negeri, dengan kehadiran delegasi internasional seperti Vietnam dan Bangladesh.

Baca Juga: Tiga Menteri Pompa Semangat 1.458 Siswa Angkatan 36 SMA Taruna Nusantara Magelang

Dalam kategori Entrepreneurship, tim NusaFlow berhasil memperoleh silver medal. Kami sangat bahagia atas pencapaian ini.

Namun, perjalanan untuk meraih itu tidak mudah. Bagi kami, medali tersebut bukan sekadar simbol kemenangan, tetapi juga hasil dari proses, revisi, diskusi, dan tantangan yang harus kami hadapi bersama.

Ide NusaFlow berawal dari perhatian kami terhadap kondisi dunia yang tidak stabil.

Berbagai konflik geopolitik global, seperti perang Rusia–Ukraina serta konflik Iran dan Israel, menunjukkan bahwa peristiwa yang terjadi di suatu wilayah dapat memberikan dampak terhadap negara lain, termasuk dalam aspek rantai pasok pangan. 

Gangguan distribusi global dapat memengaruhi ketersediaan dan harga pangan.

Dari permasalahan tersebut, kami melihat bahwa tantangan pangan Indonesia tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga bagaimana sistem distribusi dapat berjalan lebih efektif dan efisien.

Petani sebagai produsen utama masih menghadapi berbagai kendala. Salah satunya rantai distribusi yang panjang sehingga nilai ekonomi yang diterima belum maksimal.

Melalui NusaFlow, kami mengembangkan konsep “Smart Supply Chain for Sustainable Indonesia”, yaitu gagasan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dengan memanfaatkan teknologi.

NusaFlow berfokus pada sistem distribusi pintar yang menghubungkan petani dengan pasar, pelacakan jejak karbon, serta memperluas akses produk lokal menuju pasar yang lebih luas.

Persiapan menuju kompetisi ini kurang lebih dua bulan. Selama proses tersebut, kami melakukan berbagai diskusi, menyusun konsep bisnis, memperbaiki ide, hingga berlatih presentasi.

Sebagai siswa sekolah berasrama, tantangan terbesar kami adalah menentukan waktu untuk berdiskusi bersama.

Jadwal akademik dan kegiatan sekolah yang padat membuat kami harus belajar mengatur waktu dengan baik agar seluruh anggota tim tetap dapat berkontribusi.

Salah satu momen paling menegangkan bagi kami terjadi ketika sudah berada di Bali. Pada H-1 sebelum kegiatan dimulai, kami menyadari bahwa persiapan dekorasi booth NusaFlow masih belum selesai.

Saat itu, kami panik karena booth menjadi salah satu bagian penting untuk memperkenalkan proyek kami kepada peserta dan juri.

Kami harus membagi tugas, mencari solusi, dan menyelesaikan persiapan dalam waktu yang terbatas.

Momen tersebut mengajarkan kami bahwa dalam sebuah tim, kemampuan beradaptasi sama pentingnya dengan kemampuan merancang ide.

Tidak semua hal berjalan sesuai rencana, tetapi bagaimana cara kami menghadapi masalah tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Selain persiapan booth, tantangan terbesar lainnya adalah sesi penjurian. Kami mengikuti dua sesi judging session, masing-masing dengan satu orang juri dan waktu presentasi maksimal 15 menit.

Dalam waktu yang singkat tersebut, kami harus mampu menjelaskan gagasan NusaFlow secara jelas, mempertahankan argumen, serta menjawab pertanyaan dari juri.

Selama berada di Bali, kami juga masih terus melakukan latihan presentasi dan memperbaiki berbagai bagian yang dirasa kurang.

Beberapa kali kami harus tidur larut malam untuk memastikan kesiapan sebelum menghadapi penjurian.

Rasa lelah tentu ada, tetapi ketika akhirnya mendapatkan silver medal, semua perjuangan tersebut terasa terbayarkan.

Bagi saya, pengalaman terbesar dari IYBC bukan hanya tentang memenangkan penghargaan, tetapi bagaimana sebuah ide diuji dan berkembang melalui proses.

Kompetisi seperti ini mengajarkan bahwa siswa tidak hanya perlu memahami teori, tetapi juga mampu melihat masalah nyata dan mencoba menciptakan solusi.

NusaFlow membuat kami memahami bahwa kewirausahaan bukan hanya tentang menjual produk atau mendapatkan keuntungan.

Lebih dari itu, kewirausahaan adalah cara berpikir untuk melihat permasalahan dan mencari jalan keluar yang dapat memberikan manfaat.

Karena itu, sekolah perlu memberikan lebih banyak ruang bagi siswa untuk mengembangkan ide melalui proyek, penelitian, dan kompetisi.

Siswa perlu diberi kesempatan untuk mencoba, melakukan kesalahan, menerima masukan, dan memperbaiki gagasannya. Dari proses tersebut, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan kerja sama dapat berkembang.

Baca Juga: Meriah, Kirab Budaya Puncak Pandatara SMA Taruna Nusantara di Alun-Alun Magelang

NusaFlow sendiri memiliki tujuan untuk memperluas integrasi teknologi, membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, serta meningkatkan literasi digital bagi petani Indonesia.

Sebuah inovasi tidak seharusnya berhenti sebagai ide, tetapi harus memiliki manfaat nyata bagi masyarakat. Pada akhirnya, sebuah medali hanyalah simbol dari sebuah pencapaian. Hal yang lebih penting adalah pengalaman yang membentuk cara berpikir dan karakter seseorang.

Kemenangan di Bali menjadi kebanggaan bagi tim NusaFlow dan SMA Taruna Nusantara. (*/lis)

*Siswa Kelas 11 SMA Taruna Nusantara

Editor : Lis Retno Wibowo
international youth business competition (IYBC) 2026 tim NusaFlow silver medal sma taruna nusantara kewirausahaan