RADARMAGELANG.ID, Magelang – Di balik indahnya busana yang memikat mata, ada jemari terampil yang bekerja tekun di dalam sunyi. Ialah penjahit—sosok ‘pahlawan’ yang kerap tak terlihat di industri busana. Kini, mereka menjadi sorotan utama dalam karya seni rupa ciptaan pelukis Ratih Alsaira.
Bagi Ratih, penjahit telah merajut banyak hal yang tak terlihat. Padahal sesungguhnya, peran mereka begitu krusial. Kepiawaian mereka ‘menenun’ lembaran kain menjadi busana sangat menentukan seberapa memesona penampilan seseorang.
“Karya saya adalah tribute untuk para penjahit,” tegas Ratih, di Artotel Leguna Magelang, Jumat (7/8/2026).
Bagi Ratih, penjahit alat profesi yang jarang terekspos. Padahal mereka bekerja di balik nama besar sebuah desainer dan merek busana. “Itu profesi yang tidak terlihat. Weaving the Unseen, seperti judul pameran ini,” terangnya.
Pada kesempatan kali ini, Ratih menampilkan sembilan karya. Seluruhnya mengangkat profesi penjahit dan seputar busana. Kesembilan lukisannya itu dibuat tahun 2025, khusus untuk pameran solonya.
Ratih menceritakan satu karya berjudul Lullaby yang terinspirasi dari dongeng “Jubah Baru Raja” karya Hans Christian Andersen atau H.C. Andersen. Menurutnya, dongeng sebelum tidur tersebut sarat makna agar menjadi orang yang berhati-hati, bahkan kepada orang yang terlihat loyal.
“Loyalitas itu baik, namun lebih baik berbicara jujur,” terangnya.
Ada pula cerita menarik di balik lukisan berjudul Beauty in The Fields. Karya ini terinspirasi dari masyarakat dari berbagai profesi. Ia mengamati busana-busana yang dikenakan oleh masyarakat yang sedang beraktivitas di sekitar lereng Merbabu, kawasan Kopeng. Ratih melihat pekerja di pasar tradisional dan pertanian, tanpa disadari, mereka juga sedang fashion show dengan busana masing-masing. Penjual ikan dengan celemeknya dan sepatu boots-nya, para petani dengan pakaian lengan panjang, sepatu boots, dan pelindung kepala.
“Dari profesi sehari-hari, sebenarnya itu fashion. Saya melihat petani-petani Kopeng itu keren-keren. Saya lihat juga masyarakatnya memakai pakaian hangat, bahwa pakaian tebal juga cocok dipakai untuk daerah pegunungan di daerah tropis seperti Indonesia, tanpa harus ke Eropa,” terangnya.
Sementara karya berjudul Setapak Rona mengangkat sebuah nilai yang begitu mahal dari selembar dedaunan dan bunga-bungaan yang didapatkan dari alam. Mereka dapat menghasilkan warna cantik pada lembaran kain yang diproses dengan teknik ecoprint.
Hal yang menarik lainnya adalah karya berjudul Story of Layers. Menurut Ratih, manusia banyak yang tidak menyadari bahwa kehidupan yang dijalani setiap orang itu berlapis-lapis. Mulai dari organ tubuh yang dibalut oleh syaraf, otot, hingga kulit. Setelah itu masih dibalut dengan lapisan baju. Kemudian dilapisi lagi dengan karakter, dan lainnya.
Di sini, Ratih juga mengangkat sebuah karya berjudul Memoir of Anne—mengisahkan cerita masa kecilnya bersama sahabatnya, Ana. Ia bermain bongkar-pasang (BP). Kini permainan yang sangat fenomenal di tahun 1990-an itu sulit dijumpai.
“Karya ini untuk mengenang masa kecil saya, setiap pulang sekolah, saya bermain bongkar-pasang bersama Ana,” imbuhnya.
Dari kesekian karyanya, Ratih menunjuk satu karyanya berjudul Epic of Chances #1. Kaya ini menampilkan seorang penjahit duduk lesehan, mengenakan kebaya dan jarit. Di kepalanya terdapat mahkota dari bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan sebuah keberuntungan. Ungkapan itu diambil dari karakter bunga Wijaya Kusuma yang hanya mekar ketika tengah malam, bahkan sangat jarang orang bisa melihat proses terbukanya satu demi satu kelopak bunga itu. Mitosnya, orang dikatakan beruntung apabila berhasil menyaksikan fenomena alam itu.
“Saya juga merasa beruntung memiliki ibu yang dulu kesehariannya menjahit kristik, sehingga bisa menampilkan karya-karya ini,” tuturnya.
Sementara itu, Head of Creative Communications Artotel Group Tiffany Siantono mengatakan, pameran ini menjadi komitmen pihaknya dalam menghadirkan ruang seni yang bisa dinikmati masyarakat luas, bahkan tanpa perlu menginap.
“Kami ingin, Artotel menjadi tempat bertemunya para seniman, komunitas, wisatawan, dan masyarakat,” terangnya didampingi Intania Arisanti, Marketing Communication (Marcomm) Manager Artotel Leguna Magelang.
Pihaknya merotasi tema setiap 3-4 bulan untuk memajang karya-karya seniman, baik dari Magelang, Jogjakarta, Semarang, dan dari kota-kota lainnya. (put)
Editor : H. Arif Riyanto