RADARMAGELANG.ID, Magelang – Auditorium Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) disulap menjadi panggung adu gagasan delapan tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Atmosfer kompetisi pun terasa kuat karena mereka tidak hanya mendebatkan suatu persoalan, tapi harus memikirkan solusinya.
Acara ini sengaja dirancang bukan sekadar menjadi mimbar berargumen untuk mencari siapa yang menang atau kalah, melainkan menjadi ruang kolaborasi di mana generasi muda ditantang melahirkan ide kritis untuk menyikapi persoalan korupsi yang mencederai jati diri bangsa.
Ketua Panitia Acara Dilli Trisna Noviasari mengatakan acara yang bekerja sama dengan Inspektorat Daerah Kota Magelang dalam rangka Pariwara Antikorupsi 2026 ini menjadi media aktualisasi para mahasiswa fakultas hukum untuk menyuarakan gagasan dan menunjukkan integritas mereka.
“Mereka tidak sekadar pandai berdebat, kemudian berargumentasi, tetapi juga bisa membekas di benak mereka dan menginspirasi bagi yang lain,” ujar Dili, perempuan yang juga Kepala Prodi Ilmu Hukum Unimma, Kamis (6/8/2026).
Dari pengalaman kompetisi debat ini, diharapkan para mahasiswa bisa menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat tidak perlu selalu diributkan. Perbedaan pendapat seharusnya disikapi dengan bijaksana—dengan menciptakan solusi bersama untuk membangun bangsa yang makin kuat.
“Debat ini adalah debat hukum, sehingga kita akan melihat bagaimana membangun welfare state yang menjadi tujuan negara kita tercantum pada alinea keempat UUD 1945,” tandasnya.
Karena itu, kompetisi debat bertema “Manisfesto Antikorupsi : Aktualisasi Integritas Generasi Muda menuju Indonesia Welfare State” ini menitikberatkan pada argumen yang dilontarkan selalu memiliki dasar hukum yang tepat, menyampaikan dengan sikap bermartabat.
Sementara itu, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengapresiasi terselenggaranya kompetisi debat ini. Menurut Damar, generasi sekarang memiliki kemampuan berpikir yang baik, namun perlu dibekali dengan pendidikan karakter.
“Semua itu penting, sehingga mereka bisa menjadi manusia yang paripurna. Cerdas secara intelektual, tapi kuat secara karakter. Maka di mana saja mereka ditempatkan, maka akan punya kompas, punya pegangan, akan punya prinsip,” tegasnya usai membuka acara.
Damar memandang, kecerdasan intelektual saja tidak cukup untuk menjalani kehidupan secara bermartabat, sebab ada hal yang tidak boleh ditinggalkan, yakni adab. “Adab harus di atas semua,” pungkasnya. (put)
Editor : H. Arif Riyanto