Panggung Karsa Nusantara jadi Tolak Ukur Ujian Tari di Depan Publik

Puput Puspitasari • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Tarian ini terinspirasi dari ritual budaya Saparan yang dilakukan oleh masyarakat di Pulau Jawa.
Tarian ini terinspirasi dari ritual budaya Saparan yang dilakukan oleh masyarakat di Pulau Jawa.

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Gelaran Panggung Karsa Nusantara mendadak riuh dan penuh warna saat puluhan penari naik ke atas panggung untuk unjuk kebolehan, sekaligus menjalani ujian semester.

Aksi memukau para penari dari Sanggar Pariwisata (Sangpari) itu tak ayal menyedot perhatian para pengunjung Artos Mall, Sabtu (1/8/2026).

Mereka tidak sekadar tampil untuk menghibur, namun setiap gerakannya dinilai oleh juri, Briptu Adi Qori Kurniawan—seorang polisi sekaligus pendiri Sanggar Widyasmara, serta Ashallom Daniel Doohan alias Eldo, seorang konseptor kreatif lulusan ISI Surakarta.

Karenanya, para penari berusaha menyuguhkan penguasan teknik panggung, keindahan gerak, hingga ekspresi dalam menyampaikan setiap makna tarian.

Ketua Sangpari Rahendhika mengatakan bahwa ujian panggung terbuka ini menjadi tolok ukur hasil latihan ketat yang telah mereka jalani selama satu semester. Selain itu untuk menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. “Kita ingin melihat sejauh apa kemampuan mereka setelah lama berlatih,” terang Dhika.

Di sisi lain, ia memiliki misi untuk memperkenalkan karya tari agar masyarakat ikut tergerak hati untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya Indonesia. “Seni akan hidup bukan hanya karena ada penarinya saja, tapi juga didukung meningkatnya apresiasi masyarakat terhadap seni tari itu sendiri,” imbuhnya.

Meski tari berfungsi sebagai wahana ekspresi diri dan berkarya, kata Dhika, seni tari juga meletakkan fondasi nilai-nilai karakter berbudaya. “Karakter inilah yang akan melekat pada jiwa setiap penari. Mereka akan lebih mencintai budayanya, tercermin dalam tema yang kita angkat, yakni Satu Tekad, Satu Jiwa, Menjaga Wibawa Negeri,” tuturnya.

Sementara itu, Public Relations Artos Mall Raina Widita menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung keberlanjutan ekosistem seni lokal. Ia menyampaikan bahwa Artos Mall siap menjadi rumah bagi para pelaku seni di Magelang untuk terus bertumbuh dan mengekspresikan karyanya.

"Kami berharap tidak sekadar menjadi pusat perbelanjaan, tetapi juga ruang publik modern yang mengapresiasi serta melestarikan seni budaya tradisional, sekaligus mendekatkan seni tari Nusantara kepada masyarakat luas,” tandas Raina. 

Dalam acara ini, beberapa jenis tari ditampilkan. Seperti tari Saparan—yang mengadopsi tradisi upacara adat masyarakat Pulau Jawa. Menggambarkan kebahagiaan masyarakat mengarak hasil bumi mereka sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Tari Garapan Tri Putri Wijayanti Sejati ini menunjukkan gerakan-gerakan yang energik dan lincah.

Selain itu, ditampilkan Tari Bondan Kendhi. Tarian asal Surakarta ini menggambarkan kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Digambarkan dengan gerakan penuh kasih sayang menjaga sang adik yang dimaknai melalui properti boneka, dan payung sebagai pelindung. (put/aro)

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
pariwisata ekspresi Artos Mall nusantara tari