RADARMAGELANG.ID, Magelang —Setelah lebih dari tiga dekade melanglang buana dan menghiasi panggung kampus-kampus besar di Jogjakarta, Bandung, Semarang, hingga Jakarta, Komunitas Lima Gunung (KLG) akhirnya "pulang kampung". Untuk pertama kalinya, komunitas seni legendaris ini tampil di rumah sendiri, Universitas Tidar (Untidar) Magelang, Rabu (22/7/2026).
Kolaborasi perdana ini unjuk gigi dalam gelaran Tidar International Conference 2026 yang dihelat di Gedung Kuliah Umum (GKU) dr. H.R. Suparsono.
Rektor Untidar Prof Sugiyarto menegaskan, langkah ini adalah strategi besar agar kampus tidak menjadi "mercusuar sendirian" yang jauh dari realitas sosial. Kampus, menurutnya, harus berani membaur dengan masyarakat lewat filosofi Jawa ajur ajer. "Kita tidak boleh hanya academic minded. Kampus punya tanggung jawab untuk menyatukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan apa yang riil di masyarakat," ujar Prof Sugiyarto usai acara.
Rektor menyatakan, edukasi di ruang kelas bukan lagi satu-satunya jalan mutlak. Kehadiran para seniman lereng gunung ini membawa metodologi pembelajaran alternatif berbasis visual dan seni yang dinilai lebih mudah melekat di ingatan publik. "Mengajar tidak harus dengan kata-kata. Dengan visual, itu akan menjadi sangat teringat. Apalagi sekarang zamannya viral di media online. Visualisasi ini akan mendongkrak reputasi dan pengenalan kampus secara lebih mudah," jelas Prof Sugiyarto.
Ia mencontohkan, pidato ilmiah biasa mungkin memiliki keterbatasan audiens. Namun, ketika sains diintegrasikan dengan pertunjukan seni yang unik, masyarakat luas yang awalnya awam akan menjadi penasaran dan mulai mengenal Untidar.
Kolaborasi ini juga ditargetkan mampu menembus panggung global. Dengan memanfaatkan jaringan luas luar negeri milik Sutanto Mendut, Untidar optimistis dapat menggeser peta pariwisata dan edukasi budaya. Di masa depan, para peneliti Eropa diharapkan tidak hanya bertolak ke Jogja, melainkan langsung datang dan belajar budaya di Untidar Magelang.
Sementara itu, Presiden Komunitas Lima Gunung Sutanto Mendut tidak bisa menyembunyikan rasa emosionalnya. Ia menyebut momen ini sebagai ruang saling belajar yang sangat berharga setelah belasan tahun komunitasnya justru lebih sering diundang oleh kampus luar daerah. “Kini teman-teman Komunitas Lima Gunung untuk pertama kali setelah 30 tahun lebih bisa saling belajar dan diundang di kampus kotanya sendiri (Untidar Magelang),” ujarnya. (rfk/aro)