Manuskrip Kuno Merbabu Sumber Pengetahuan Orisinal, Rektor Untidar Magelang Dorong Lakukan Penelitian Mendalam

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 09:54 WIB
Rektor Untidar Magelang Prof Sugiyarto (ROFIK SYARIF/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Rektor Untidar Magelang Prof Sugiyarto (ROFIK SYARIF/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang–Universitas Tidar (Untidar) Magelang berkomitmen penuh mendorong penelitian mendalam terhadap peninggalan manuskrip kuno di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang.

Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral akademis terhadap pelestarian sejarah lokal di kawasan lereng Gunung Merbabu.

Dusun Kedakan di masa lampau diketahui menjadi pusat berkumpulnya para cendekiawan.

Hal ini dibuktikan dengan temuan ribuan manuskrip kuno bermedia daun lontar di sebuah padepokan setempat. 

Baca Juga: Manuskrip Kedakan: Jembatan Ilmu Pengetahuan Merapi-Merbabu yang Ingin Dipulangkan ke Magelang

Sayangnya, ribuan naskah tersebut kini telah tersebar hingga ke Belanda dan ratusan lainnya disimpan di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), hingga hanya menyisakan satu manuskrip di lokasi asalnya.

Rektor Untidar Magelang Prof Sugiyarto menegaskan, sisa naskah kuno tersebut merupakan sumber pengetahuan orisinal yang sangat menarik dan harus segera direspon secara akademis.

"Kami sebagai sivitas terdekat, kampus terdekat dengan lokasi, pastinya merasa bertanggung jawab bagaimana ini bisa terpelajari dengan baik dan terungkap dengan baik," ujar Prof Sugiyarto kepada Jawa Pos Radar Magelang, Rabu (22/7).

Menurut Prof Sugiyarto, salah satu tantangan ilmiah terbesar saat ini adalah mengungkap rahasia ketahanan fisik material manuskrip tersebut.

Untidar berencana mendekati penelitian ini dari sisi sains murni, mulai dari analisis unsur material hingga pemanfaatan teknologi nanomaterial untuk konservasi fisik naskah agar tidak rusak dimakan usia.

"Kalau di sana bisa mengawetkan lebih bagus, itu kan tentu ada metodenya, ada caranya, ada teknisnya. Justru tantangan kita, bagaimana mengawetkan sesuatu itu bisa awet. Secara ilmiah caranya bagaimana? Bisa dari sudut materialnya, lalu mungkin dari sudut nanomaterial," jelasnya.

Mengingat keterbatasan tenaga ahli filologi dan naskah kuno di internal kampus saat ini, Untidar menegaskan kesiapannya untuk berkolaborasi dan menggandeng lembaga serta perguruan tinggi lain yang kompeten di bidang tersebut.

Lebih jauh, temuan sejarah ini juga menjadi pemantik bagi Untidar untuk berbenah ke dalam.

Prof Sugiyarto melihat melimpahnya peninggalan sejarah dan budaya di Magelang—termasuk relief Candi Borobudur—sebagai peluang besar bagi Untidar untuk memperluas disiplin ilmunya di masa depan.

"Ini tantangan ke dalam. Kenapa Untidar ke depannya tidak membuat prodi yang sesuai dengan kondisi di Magelang yang menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah dan budaya? Ini tantangan bahwa Untidar harus membuat Fakultas Kebudayaan, itu menjadi sesuatu yang potensial sekali," katanya. (rfk/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
manuskrip untidar penelitian UGM merbabu Prof Sugiyarto