RADARMAGELANG.ID, Magelang – Demi masa depan yang lebih cerah, pedagang kios Mudalrejo di Taman Kyai Langgeng (TKL) memilih tunduk para rencana penataan yang akan dilakukan Pemkot Magelang. Mereka tidak menolak. Dalam kesempatan tatap muka, mereka menyampaikan harapan itu kepada Wali Kota Magelang Damar Prasetyono.
Surono, pedagang suvenir menyatakan siap mendukung program strategis wali kota. Ia yakin, penataan itu membawa misi yang mulia. “Istilahnya dengan pemimpin, ya kita manut, kalau tujuannya untuk kebaikan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Pria yang juga ketua paguyuban itu mengungkapkan, jika sebenarnya kondisi para pedagang sudah memprihatinkan. Tidak jarang modal yang dibawa hari itu, habis untuk makan dan ongkos bensin. “Saya kira, kalo kios dekat dengan parkiran, area ini jadi lebih ramai,” ujarnya optimistis.
Hal senada diungkapkan Mulyani, pedagang pakaian dan boneka. Ia tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya mendenggar program strategis itu. Di balik senyumnya yang merekah itu, terselip asa besar agar kebijakan tersebut mampu menjadi titik balik mengakhiri masa-masa sulit dari sepinya pembeli.
Selama 26 tahun mengais rezeki di kawasan TKL, fase pascapandemi Covid-19 diakui sebagai periode yang paling krisis. Seketika ia mengingat masa kejayaan pedagang TKL, yakni saat klub sepak bola Arema mendulang keemasan di Liga Super Indonesia (2009-2010) dan beberapa turnamen pramusim bergengsi, seperti Piala Presiden. “Wah dulu sehari bisa dapat berjuta-juta, sekarang Rp 30 ribu saja susah. Kemarin (15/7/2026) ada wisatawan lima bus, saya tunggu sampai sore, sama sekali nggak dapat apa-apa,” keluhnya.
Ia juga bercerita, penjualan di hari Kamis (16/7/2026) pun hanya Rp 30 ribu. Ia melepas dagangannya meski hanya untung tipis. “Untungnya nggak cukup buat beli bensin satu liter, hehehe,” ucap perempuan 50 tahun itu.
Warga Magelang itu merasa bersyukur, pemkot tidak menarik retribusi sewa kios, sehingga tidak memperparah kondisi yang dialami pedagang. Kelonggaran itu membantu mengurangi dampak kerugian.
Namun, menurut Mulyani, tempat wisata di Magelang yang mengalami penurunan pengunjung tidak hanya di TKL. Kondisi sama juga dialami tempat wisata lainnya. “Sebenarnya semua sedang sepi, hanya butuh kesabaran dan telaten buka saja,” tuturnya.
Bagi Mulyani, UMKM memang harus pantang menyerah. Ia tidak menjual barang danganannya dengan harga mahal, agar lebih terjangkau untuk pengunjung.
Diungkapkan Mulyani, ia selalu memiliki keyakinan, semua yang diperjuangkan, pasti ada jalan. Benar saja, di saat pedangang lain menutup kios, Mulyani justru bertindak sebaliknya. Ia tetap buka. Menebarkan senyum dan guyonan renyah demi menarik wisatawan yang melewati lapaknya. “Ya, guyon-guyon sedikit, biar gayeng,” tuturnya sambal menambahkan, tindakannya itu sebagai penghibur diri.
Informasi yang dihimpun koran ini, Mulyani menjadi salah satu pedagang yang rajin membuka kios. Dalam kondisi seperti saat ini, hanya 2-3 pedagang yang setiap hari buka. Lainnya beralih ke pekerjaan lain. Mereka biasanya berjualan ketika hari Sabtu dan Minggu, serta momen tanggal merah. (pu/aro)
Editor : H. Arif Riyanto