RADARMAGELANG.ID, Magelang - Suasana meriah tampak di halaman SD Negeri Potrobangsan 3 Kota Magelang, Jumat (17/7/2026) pagi tadi.
Para siswa baru kelas 1 berkumpul mengikuti acara penutupan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang sudah digelar sejak Senin (13/7/2026) lalu.
Para siswa bergembira, karena sejumlah kegiatan sarat makna digelar, mulai pelepasan atribut MPLS, cap jari kesepakatan bersama, hingga pelepasan balon warna-warni oleh peserta didik baru disaksikan ratusan siswa kelas 2-6.
Kegiatan ini juga dihadiri petugas Babinsa (TNI) dan Bhabinkamtibmas (Polri) Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara.
“Kami dari Babinsa dan Bhabinkamtibmas mendampingi anak-anak, biar anak-anak tambah semangat melihat dari kita” ujar Bhabinkamtibmas Kelurahan Potrobangsan Aiptu Mustofah kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Kepala SDN Potrobangsan 3 Widyastuti menjelaskan, rangkaian MPLS yang berlangsung selama satu pekan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan mengacu pada panduan resmi dari Kemendikdasmen.
Materi wajib dan materi pilihan, hingga susunan kegiatan dari hari pertama sampai hari terakhir, semuanya sudah tersusun rapi dalam rujukan tersebut.
“Kami mengikuti rujukan itu saja, dengan mungkin tambahan inovasi, seperti cap jari kesepakatan, kemudian pilihan ekstrakurikuler yang juga dikembalikan lagi ke sekolah masing-masing,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah mengenai MPLS Ramah Anak, lanjut dia, SDN Potrobangsan 3 secara serius mengimplementasikan pembinaan karakter yang selaras dengan 8 dimensi profil lulusan.
Salah satu penerapannya adalah melalui Gerakan 7K, sebuah kerangka pembiasaan yang mencakup rutinitas bangun tidur pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar membaca, bermasyarakat, hingga disiplin tidur cepat.
Dikatakan, setiap pagi, siswa diajak mengikuti program "Pagi Ceria".
Rangkaian ini berisi kegiatan olahraga, tes fleksibilitas fisik, serta pembiasaan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun).
"Ini tidak hanya diajarkan saat MPLS, tetapi juga diintegrasikan secara berkelanjutan ke dalam pelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, hingga kegiatan pembiasaan harian," tambah Widyastuti.
Sementara itu, prosesi penutupan ditandai dengan pelepasan balon.
Rangkaian balon warna-warni tersebut dimaknai untuk merepresentasikan fase psikologis anak-anak yang penuh keceriaan.
Melalui simbolisme pelepasan balon ini, diharapkan tidak ada ketraumaan apapun saat anak memasuki lingkungan baru.
“Terbangnya balon di udara menjadi visualisasi langsung dari cita-cita anak-anak yang lepas dan bebas berkembang,” jelasnya. (mg6/mg4/aro)
Editor : H. Arif Riyanto