Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Ratusan Kios Mudalrejo Taman Kyai Langgeng Kota Magelang akan Dibongkar, Dialihfungsikan Jadi Lahan Parkir Wisata

Puput Puspitasari • Kamis, 16 Juli 2026 | 23:27 WIB
Ratusan lapak kerajinan dan kios oleh-oleh Mudalrejo di depan Taman Kyai Langgeng (TKL) Kota Magelang akan dibongkar menjadi lahan parkir.  (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Ratusan lapak kerajinan dan kios oleh-oleh Mudalrejo di depan Taman Kyai Langgeng (TKL) Kota Magelang akan dibongkar menjadi lahan parkir.  (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang– Lapak kerajinan dan kios oleh-oleh Mudalrejo di depan Taman Kyai Langgeng (TKL) Kota Magelang akan segera dibongkar. Pemkot Magelang berencana mengalihfungsikan bangunan semi permanen itu menjadi lahan parkir wisata TKL. Setidaknya, ada 40 pelaku usaha terdampak kebijakan ini.

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menegaskan, penataan kawasan kios Mudalrejo ini semata untuk kepentingan UMKM. Di sisi lain, mendukung ketersediaan lahan parkir wisata agar tidak meluber ke jalan.

“Penataan ini agar TKL punya tempat parkir yang ideal, dan pedagang sebagai pendukung TKL akan laris,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Kamis, (16/7/2026) sore. 

Meski belum membeberkan secara rinci teknis pelaksanaan dan waktu pembongkaran lapak, Damar menargetkan akhir Desember nanti akan selesai.

Menurutnya, keramaian wisata dengan pedagang UMKM selalu memiliki korelasi, yakni hubungan yang saling menguntungkan. Setelah kawasan lebih tertata, pihaknya akan mengkaji besaran retribusi yang akan dibebankan kepada pelaku usaha. “Setiap lahan pemerintah seyogyanya berkontribusi untuk pendapatan asli daerah (PAD),” tegasnya.

Damar pun akan menyeleksi para pedagang yang boleh berjualan di sana. Sebab, ia mendengar, ada pedagang yang memiliki lebih dari satu lapak.

“Semua UMKM (lama) harus terfasilitasi. Tapi diseleksi, karena ada (informasi bahwa) satu orang memiliki empat lapak,” ungkapnya. 

Kepala Disporapar Kota Magelang Imam Baihaqi menambahkan, penataan ini merupakan komitmen Pemkot Magelang dalam meningkatkan pariwisata. Tapi pihaknya juga tidak menampik bahwa ada temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), bahwa setiap aset pemerintah yang dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi harus beretribusi. Sementara di kios Mudalrejo, retribusi itu tidak ditarik alias gratis.

“Penataan ini memang ide pak wali kota. Namun, memang ada temuan BPK, bahwa pemanfaatan aset harus ada setoran. Dan ini nol rupiah. Sementara pemanfaatan aset harus ada biaya sewanya,” ungkapnya.

Saat diresmikan oleh wali kota terdahulu, Sigit Widyonindito pada 2012 lalu, berdiri 160 lapak. Seiring berjalannya waktu, jumlah itu terus menurun menjadi 140, dan hingga kini tersisa 40 lapak yang aktif.

Ketua Paguyuban Showroom Mudalrejo Surono (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Ketua Paguyuban Showroom Mudalrejo Surono (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

 

Rencana Pemkot Magelang mengalihfungsikan bangunan semi permanen Mudalrejo menjadi lahan parkir pengunjung TKL disambut baik oleh Ketua Paguyuban Showroom Mudalrejo, Surono. 

Menurutnya, jika sebagian area Mudalrejo digunakan untuk lahan parkir, maka akan semakin banyak pengunjung yang mendekat ke area kios. “Harapannya kalau semakin dekat, mereka mau mampir belanja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Kamis (16/7).

Dikatakan Surono, selama ini, para pedagang harus bertahan dengan kondisi yang sulit pascapandemi Covid-19. “Sekarang yang berjualan setiap hari hanya 2-3 kios. Kalau Sabtu dan Minggu baru buka semua. Sepi Mbak,” keluhnya.

Beruntung, selama ini, Pemkot Magelang tidak menarik retribusi. Sehingga para pedagang tidak makin tekor.

Surono berharap, penataan nanti akan mengubah nasibnya dan pedagang lainnya. Ia menyadari, jika kawasan ini semakin baik, akan mampu meningkatkan daya tarik wisatawan berbelanja.  

Selain itu, ia berharap pemerintah tidak hanya membenahi area Mudalrejo, tapi juga manajemen TKL. “Tiket masuknya jangan mahal-mahal, kalau bisa lebih murah,” usulnya.

Ia mengaku, saat TKL menjual tiket masuk dengan harga murah pascapandemi  Covid-19 lalu, para pedagang kebanjiran pengunjung. Namun setelah harga tiket kembali dinaikkan, Mudalrejo kembali sepi.

“Kadang sehari bawa modal Rp 25 ribu saja belum tentu balik. Kadang malah habis untuk makan. Sehari bisa laku dengan omzet kotor Rp 100 ribu saja itu sudah beruntung sekali,” ucapnya. (put/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
TKL Taman Kyai Langgeng Disporapar Kota Magelang lahan parkir Wali Kota Magelang Damar Prasetyono