RADARMAGELANG.ID, Magelang – SD Negeri Rejowinangun Utara 3, Kota Magelang, memulai tahun ajaran baru dengan menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS),Senin (13/7/2026).
Tahun ini, SDN Rejowinangun Utara 3 hanya mendapat lima siswa baru.
Kepala SDN Rejowinangun Utara 3 Biatrik Ratna Milasari mengatakan, MPLS digelar selama sepekan penuh dan digabung dengan siswa kelas 2 hingga kelas 6 yang mengikuti kegiatan serupa bernama Masa Pengenalan Lingkungan Kelas (MPLK).
Menurutnya, sekolah memang tidak memisahkan kegiatan pengenalan lingkungan berdasarkan jenjang kelas, salah satunya karena jumlah siswa yang terbatas.
“Karena jumlah siswanya tidak terlalu banyak, MPLS kita gabungkan kelas 1 sampai 6. Kita buatkan program yang kelompoknya berisi siswa kelas 1 sampai 6,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, MPLK berbeda dengan MPLS.
Karena ditujukan bagi siswa yang sudah mengenal lingkungan sekolah, tetapi belum mengenal wali kelas.
“Kalau MPLS kan siswanya dari TK. Belum kenal semua gurunya. Nah, kalau yang kelas 2 sampai 6 sebenarnya sudah kenal gurunya, tapi kan kalau di SD itu guru kelas, jadi tiap naik kelas ganti gurunya,” paparnya.
Kepala sekolah yang akrab disapa Mila ini menyebut, kegiatan belajar mengajar (KBM) efektif akan dimulai pada Senin (20/7/2026) mendatang, setelah rangkaian MPLS dan MPLK selesai selama lima hari.
Ia memastikan pelayanan pendidikan tidak akan berbeda meski jumlah siswa di sejumlah kelas sangat sedikit.
“Mau muridnya 5, mau muridnya 10, atau 28 , Insya'Allah pelayanannya tetap sama,” tegasnya.
Namun ia mengakui untuk mata pelajaran olahraga, kelas 1 dan 2 yang masing-masing hanya berisi lima siswa akan digabung agar interaksi antar siswa tetap terjalin sekaligus memudahkan kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan data sekolah, dari enam rombongan belajar yang ada, hanya kelas 5 dan 6 yang memiliki jumlah siswa relatif banyak, masing-masing 15 dan 11 anak.
Sementara kelas 1 hingga kelas 4 masing-masing hanya diisi lima siswa.
Mila menjelaskan, keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak hanya dipengaruhi oleh guru sebagai pihak internal sekolah.
Lebih dari itu, dukungan wali murid beserta lingkungan sekitar untuk memastikan kehadiran dan mendampingi tumbuh kembang siswa juga sangat krusial.
Selanjutnya, Mila mengklaim capaian akademik sekolahnya justru meningkat dalam dua tahun terakhir.
Pada 2025, SDN Rejowinangun Utara 3 mendapatkan dana Bos Kinerja senilai Rp22,5 juta dari pemerintah pusat sebagai penghargaan atas kenaikan signifikan kinerja sekolah.
Tahun ini, lanjut dia, sekolah tersebut juga menempati peringkat pertama rata-rata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) di antara enam SD negeri se-Kelurahan Rejowinangun Utara, dengan satu siswanya meraih nilai sempurna 100. Siswa itu masuk 21 siswa se-Kota Magelang yang meraih nilai absolut TKA.
“Prestasi yang katakanlah dua tahun terakhir ini sayangnya belum bisa membuka mata masyarakat, bahwa sudah ada peningkatan sistem belajar di sini,” ujarnya.
Disinggung soal wacana regrouping atau penggabungan sekolah yang beredar di masyarakat, Mila membenarkan bahwa isu tersebut sudah ada sejak sebelum ia mulai bertugas di SDN Rejowinangun Utara 3 pada 2019.
Ia menyebut, proses tersebut memerlukan tahapan panjang, termasuk uji publik yang melibatkan pihak akademisi atau kampus seperti Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) dan Universitas Tidar (Untidar), tokoh pendidikan, hingga Pemerintah Kota Magelang. (mg1/mg5/aro)
Editor : H. Arif Riyanto