Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Ketua Komisi C DPRD Kota Magelang, 10 SD Negeri Diproyeksikan Regrouping 

Puput Puspitasari • Senin, 13 Juli 2026 | 21:54 WIB
Ketua Komisi C DPRD Kota Magelang Narisqa (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Ketua Komisi C DPRD Kota Magelang Narisqa (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang - Komisi C DPRD Kota Magelang mengakui sejumlah SD Negeri mengalami kekurangan murid bahkan hingga hari pertama masuk sekolah.

Menyikapi kondisi ini, wacana penggabungan atau regrouping sekolah kian mengerucut.

Ketua Komisi C DPRD Kota Magelang Narisqa mengatakan, rencana ini sudah disampaikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang dalam rapat kerja bersama DPRD. Pihaknya juga menjaring aspirasi dari kepala sekolah dan guru, sebelum rencana itu benar-benar dilaksanakan. Langkah hati-hati ini diambil agar tidak terjadi kebijakan yang kontradiksi. Pasalnya, ada lebih dari 10 sekolah yang diproyeksikan untuk regrouping.

"Awalnya kita pikir kalau regrouping gurunya akan menganggur, ternyata nggak. Justru saat ini banyak yang pensiun," kata Narisqa, Senin (13/7/2026).

Atas kondisi itu, beban jam kerja guru menjadi berlebihan. Sementara di sekolah negeri, tidak ada anggaran untuk membayar upah lembur.  "Artinya, dengan regrouping itu justru sebagai jalan keluar agar beban kerja guru menjadi normal," tambahnya. 

Keuntungan lainnya, biaya operasional sekolah menjadi lebih ringan karena pihak sekolah tidak harus menyediakan tenaga guru untuk mengajar beberapa murid saja. Sebab, kata Narisqa, ada sekolah yang hanya mendapatkan satu hingga delapan murid baru. 

Narisqa juga meminta Disdikbud untuk refleksi dan mencari penyebab pasti penyebab kekurangan murid yang masih terjadi hingga masa sistem penerimaan murid baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027. 

"Tahun lalu ada salah satu SD di Magelang Selatan, yang daftar hanya lima murid. Padahal lokasinya di tengah kampung, punya fasilitas lengkap seperti gamelan, artinya nggak ada daya tarik," imbuhnya. 

Menurutnya, penyebab kekurangan murid tidak hanya dari jumlah usia masuk SD yang makin sedikit. Tapi kualitas pendidikan yang belum merata. Dugaan itu muncul karena ada dua sekolah dalam satu lingkungan yang memiliki jumlah murid berbeda jauh.

Selain itu, pergeseran minat ke sekolah swasta berbasis agama dinilai cukup tinggi. Namun Narisqa menegaskan bahwa hal ini tidak sepenuhnya menjadi faktor utama. Sebab dari segi pengeluaran orang tua, sekolah swasta mematok biaya yang mahal daripada sekolah negeri yang gratis.

Sehingga, keberadaan sekolah swasta berbasis agama yang menjamur di Kota Magelang tidak lantas melemahkan posisi sekolah negeri.

"Saya rasa tidak. Karena memilih ke sekolah swasta itu pilihan. Dan sekolah swasta itu menyasar murid tidak hanya dari Kota Magelang saja, banyak yang muridnya dari kabupaten," imbuhnya.

Di sisi lain, kehadiran sekolah swasta berbasis agama yang bertaraf nasional maupun internasional dapat memperkuat layanan pendidikan di Kota Magelang. Menurut Narisqa, letak geografis Kota Magelang membuatnya terus dilirik sebagai pusat pendidikan.

"Kenapa Kota Magelang dipilih ? Karena secara geografis, kota ini ibaratnya cincin. Ada di tengah," imbuhnya.

Ia berharap, Disdikbud senantiasa berinovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekolah negeri, agar tetap bisa memberikan layanan pendidikan gratis bagi masyarakat namun secara kualitas bisa diperhitungkan. (put/aro)

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
penggabungan narisqa regrouping SD DPRD Kota Magelang kekurangan murid