Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Di SDN Maduretno dan SDN Sawangan 4 Magelang, MPLS Hanya Diikuti Satu Siswa

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Senin, 13 Juli 2026 | 21:50 WIB
Empat siswa baru SD Negeri Potrobangsan 4 Kota Magelang saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWAPOS RADAR MAGELANG)
Empat siswa baru SD Negeri Potrobangsan 4 Kota Magelang saat mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026). (ROFIK SYARIF/ JAWAPOS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, MungkidHari pertama masuk sekolah, sejumlah SD Negeri di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang masih kekurangan siswa baru. Bahkan, ada sekolah yang hanya mendapatkan satu siswa dari kuota 28 kursi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang Drs Wisnu Argo Budiono menyampaikan, tahun ini terdapat 114 dari 541 SD Negeri di Kabupaten Magelang yang pendaftarnya di bawah 10 siswa. Bahkan, dari 114 SD Negeri tersebut, ada 24 yang jumlah siswanya di bawah lima anak.

Wisnu menyebutkan sekolah yang hanya mendapat di bawah lima siswa, yakni, SD Negeri Maduretno Kaliangkrik dan SD Negeri Sawangan 4, masing-masing hanya mendapat satu siswa baru. Praktis, pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hanya diikuti satu anak. Lalu, SD Negeri Banyuwangi 2 Bandongan, SD Negeri Mangunsari Windusari, SD Negeri Polengan 1 Srumbung, SD Negeri Tirtosari 1 Sawangan, dan SD Negeri Wonokerto Tegalrejo hanya mendapat masing-masing dua siswa.

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Magelang Susmiyati Jiwaningrum mengatakan, kejadian ini sudah mulai terjadi sejak beberapa tahun lalu Menurutnya, permasalahan kekurangan siswa ini memang cukup kompleks. Salah satu faktor yang pasti, lulusan TK atau PAUD di setiap desa atau kecamatan di Kabupaten Magelang memang mengalami penurunan. Sehingga hal ini berdampak dengan jumlah anak yang masuk SD.

“Selain itu, di sejumlah wilayah juga ada MI atau sekolah swasta, pastinya ada juga beberapa orang tua yang menyekolahkan anaknya ke MI maupun sekolah swasta,” katanya.

Wisnu Argo menambahkan, sebagai langkah untuk meminimalkan terus berkurangnya jumlah SD yang kekurangan murid, tahun ini, pihaknya berencana melakukan penggabungan atau regrouping SD Negeri, yakni SD Negeri Soka 2 Kecamatan Srumbung dan SD Negeri Blongkeng 3 Kecamatan Ngluwar.  “Nantinya sekolah ini akan di-regrouping dengan sekolah negeri lainnya yang berada di masing-masing wilayah tersebut,” jelasnya.  

Fenomena kekurangan siswa baru juga terjadi di SD Negeri di Kota Magelang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang mencatat ada 24 SD Negeri yang minim siswa.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Magelang Sugiyarti mengatakan jumlah SDN di Kota Magelang ada 59 sekolah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 24 SD Negeri yang jumlah siswa barunya di bawah 50 persen dari kuota rombel yang ada.

Ia menyebutkan, jumlah SD Negeri yang murid barunya di bawah 10 anak ada enam sekolah. “Yang paling sedikit SDN Cacaban 1, jumlah siswa baru hanya tiga anak,” ujarnya.

Selain SD Cacaban 1, jumlah SD Negeri yang menerima di bawah lima siswa itu ada SD Negeri Potrobangsan 4.

Kepala SDN Potrobangsan 4 Lis Wurirawati mengatakan, pada tahun ini sekolahnya dapat empat anak.

Dari empat anak tersebut, terdiri atas dua perempuan dan dua laki-laki.

“Dapat empat anak, itu pun satu mutasi dari SD Magelang 4. Terus yang kedua, ada anak yang di KK Wonosobo, tapi sudah tinggal di sini (Magelang). Terus yang dua lagi, orang Magelang langsung,” kata Lis saat ditemui di sekolah.

Ia mengaku, penurunan jumlah siswa baru ini dirasakan mulai tahun ini.

Pasalnya, pada tahun sebelumnya masih menerima 16 siswa[u1] .

‎Dari empat anak siswa baru ini, kata Lis, satu di antaranya usianya masih 5 tahun 8 bulan. “Jadi nanti kalau di dapodik itu residu (belum valid). Ya, empat itu asli SPMB. Tapi, dengan kondisi seperti itu,” sambung Lis.

‎Lis menjelaskan, untuk kelas 2 hingga 6 pun jumlah siswanya memang tidak sampai 20 siswa. Dengan rincian kelas 2 ada 17 siswa, kelas 3 ada 17, kelas 4 ada 10 anak, kelas 5 ada 12 dan kelas 6 ada 16 siswa.

“Kemarin meluluskan 12. Jadi, tahun 2025/2026 jumlahnya ada 88 anak," ujarnya.

‎Upaya yang telah dilakukan sekolah, kata Lis, setiap tahun sudah ndodoki dalem atau jemput bola dengan mendatangi rumah.

Kedatangannya untuk menanyakan kerabatnya yang sekolah di SDN Potrobangsan 4.

‎"Jadi, setiap tahun sudah ndodoki dalem. Kita tanya kakaknya,'kakaknya siapa ya ada di sini, kita ndodok lawange. 'Bu sekolah di sini ya' dan lain sebagainya. Tapi, namanya orang tua, kita sudah promosi ke sekolah-sekolah (TK), kita datangi orang tuanya," kata Lis.

‎"Kalau misalnya zonasi sini, itu kan Botton Kopen. Ada SD Magelang 5, Magelang 6, Magelang 7, Magelang 4. Tulung bisa ke sini, bisa ke sana (SD lainnya). Potrobangsan sudah jelas ada Rindam, Potrobangsan 2 dan Potrobangsan 3. Kalau sampai ke Dumpoh, itu ada Potrobangsan 1. Jadi, kita mungkin mendengar, melihat sekolah yang banyak dan dekat dengan wilayahnya. Dan rata-rata kurang tahun ini," bebernya. (rfk/aro)

 


 [u1]

Editor : H. Arif Riyanto
#Hari Pertama Sekolah #Potrobangsan #mpls #Kabupaten Magelang #Kota Magelang