Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Kesejahteraan Petani dan Kesehatan Masyarakat Bisa Berjalan Beriringan, MTCC UNIMMA Desak Kebijakan Kolaboratif

Rofik Syarif Ghirinda Putra • Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42 WIB
Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menggelar Press Conference dengan tema Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau  di Hotel Atria Magelang. (ROFIK SYARIF/ JAWAPOS RADAR MAGELANG)
Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menggelar Press Conference dengan tema Membangun Dialog tentang Masa Depan Petani Tembakau, Kesehatan Masyarakat, dan Kebijakan Pengendalian Tembakau  di Hotel Atria Magelang. (ROFIK SYARIF/ JAWAPOS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menggelar dialog multipihak di Hotel Atria Magelang, Rabu (17/6/2026).

Pertemuan ini mengupas tuntas nasib petani tembakau yang selama ini terjebak dalam lingkaran ketidakpastian ekonomi, sekaligus merumuskan strategi pengendalian tembakau demi kesehatan masyarakat.

Ketua MTCC UNIMMA dr. Retno Rusdjijati menegaskan, perlindungan kesehatan dan kesejahteraan petani bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Menurutnya, kedua aspek ini bisa berjalan beriringan jika didukung oleh kebijakan pemerintah yang tepat, berbasis data, dan dilakukan secara gotong royong.  

“Petani perlu menjadi bagian dari solusi pembangunan yang berkelanjutan,” ucapnya.

Dikatakan Retno, keduanya dapat berjalan beriringan apabila didukung oleh kebijakan yang tepat, berbasis bukti dan dilaksanakan secara kolaboratif.

Hasil studi MTCC menyatakan petani tembakau saat ini masih menghadapi berbagai tantangan.

Antara lain, ketidakpastian harga hasil panen, meningkatnya biaya produksi, perubahan iklim, keterbatasan akses pasar, serta ketergantungan pada komoditas tunggal yang rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi dan lingkungan.

Karena itu, lanjut dia, diperlukan berbagai upaya untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani melalui diversifikasi usaha dan pengembangan komoditas alternatif yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.

 

Retno mengakui, saat ini pada kenyataannya banyak petani tembakau yang tidak sejahtera, pendapatan mereka terganggu akibat budidaya tembakau. Sehingga kajian ini dilakukan, dengan tujuan untuk menentukan strategi yang tepat dan membantu mencarikan jalan keluar bagi para petani tembakau.

Salah satunya, lanjut Retno, melakukan diversifikasi usaha dan alih tanam. Dengan cara mulai mengembangkan komoditas alternatif seperti sayuran, kopi, hortikultura, dan tanaman pangan lainnya sebagai sumber penghasilan tambahan maupun pengganti tembakau. 

“Alih tanam bukan sekadar mengganti jenis tanaman. Alih tanam adalah proses yang membutuhkan komitmen petani, pendampingan yang berkelanjutan, akses pasar, dukungan pemerintah, dan kerja sama semua pihak. Pengalaman kami menunjukkan bahwa petani mampu beradaptasi ketika diberikan kesempatan dan dukungan yang memadai,” jelasnya.

Melalui kegiatan ini, MTCC UNIMMA juga memperkenalkan berbagai produk pengetahuan yang telah dikembangkan, antara lain policy paper, video dokumenter, podcast, dan infografis yang menggambarkan kondisi petani tembakau, tantangan yang dihadapi, pengalaman alih tanam, serta berbagai rekomendasi kebijakan yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat maupun daerah.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Romza Ernawan menambahkan, dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini, tren luas tanam tembakau di Kabupaten Magelang mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Sebelumnya pada 2021 itu luas lahan tembakau di Kabupaten Magelang ada 6.000 hektare, namun mulai 2025 mengalami penurunan dan tersisa 3.000 hektare saja.

Ia menjelaskan, salah satu penyebabnya karena perubahan iklim global. Di mana ketidakpastian terkait curah hujan ini sangat berpengaruh pada produksi mutu tembakau itu sendiri. 

Sehingga banyak petani yang mulai beralih ke komoditas lainnya.

Selain itu, berkaitan dengan harga pasar.

Di mana harga tembakau dari petani sangat mengkhawatirkan dibandingkan komoditas lainnya.

“Sehingga hal ini menjadi pertimbangan bagi para petani mulai beralih ke komoditi lain, salah satunya kita dorong untuk mengembangkan ke komoditi kopi,” ujarnya. (rfk/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#kopi #petani #MTCC Unimma #tembakau #Kabupaten Magelang