RADARMAGELANG.ID, Magelang – Di tengah ekonomi yang sulit, pengusaha di Kota Magelang menghindari upaya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Salah satu strategi bertahan yang dipilih adalah dengan melakukan efisiensi di berbagai lini, agar jumlah tenaga kerja bisa dipertahankan. Keputusan ini juga selaras dengan imbauan pemerintah.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Magelang Eddy Sutrisno mengatakan, Apindo dan Tripartit di Kota Magelang bersepakat untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan kondisi upah minimum kota (UMK) telah tergerus inflasi.
“Kalau mereka (pekerja, Red) di PHK, pasti akan menjadi kerawanan sosial. Sehingga, kita saling bekerja sama untuk mencegah PHK, dan kalau bisa, kita mengembangkan usaha untuk menarik (rekrutmen, Red) tenaga kerja baru,” tutur Eddy di selai kegiatan bantuan paket sembako murah, di Alun-alun Kota Magelang.
Eddy juga memberikan tanggapan atas diraihnya penghargaan Terbaik I Kategori Penurunan Tingkat Pengangguran Tingkat Kota dalam ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Regional Jawa-Bali.
Menurutnya, prestasi itu adalah hasil kerja bersama, baik pemerintah, pengusaha, juga masyarakat. Pengamatannya, masyarakat Kota Magelang memiliki peran besar terhadap penurunan angka pengangguran terbuka (TPT). Mereka menciptakan lapangan pekerjaan meskipun masih berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di sisi lain, belum adanya indikator yang jelas untuk menilai masyarakat yang dikatakan menganggur. “Standar dikatakan pengangguran itu masih jadi perdebatan. Sebagai contoh, warga yang seminggu sekali berjualan di lapangan Rindam misalnya, itu tidak dianggap sebagai pengangguran,” ucapnya.
Ia menimpalinya lagi. “Itulah mengapa, secara nasional, tingkat pengangguran Kota Magelang sangat berkurang. Ini juga harus menjadi komitmen bersama, pengusaha dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan pengembangan usaha meskipun dalam skala kecil,” imbuhnya.
Eddy pun meminta Pemkot Magelang untuk membuat kantong-kantong atau pusat UMKM, agar dapat menjadi ruang baru bagi UMKM untuk berjualan secara kontinu dan mendapatkan penghasilan yang layak.
Tidak hanya itu, Eddy juga memberikan pujian terhadap kinerja Tim Pengendali Inflasi Daerah (TIPD) saat ini. Toh demikian, ia tetap meminta TIPD untuk menjaga harga barang-barang sembako tidak terlalu mahal.
Menurut Eddy, semua pihak bisa turut serta dalam menjaga stabilitas dan mengendalikan inflasi daerah. Ia menyebutkan, kegiatan sosial yang dilakukan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Magelang menjadi contoh konkrit para pengusaha menjaga daya beli masyarakat di tengah gejolak harga.
“Pengusaha PSMTI ini ikut membantu, memberikan 2.000 paket sembako murah kepada warga. Kenapa tidak gratis? Kalau gratis, justru bisa menjadi kurang baik. Dengan tebus murah, maka masyarakat tetap bisa menerima manfaat seluas-luasnya, dan tetap bisa membantu bantalan ekonomi masyarakat rentan Kota Magelang,” pungkasnya. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto