Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Berbekal Kartu Pos, Elsbeth de Jager Telusuri Jejak Sejarah Kakek Buyut di Kota Magelang

Puput Puspitasari • Minggu, 24 Mei 2026 | 23:19 WIB
Elsbeth de Jager dan suaminya, Melvin Van Deventer, didampingi pegiat Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana, menelusuri jejak leluhur di Kota Magelang, Jumat (22/5/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)
Elsbeth de Jager dan suaminya, Melvin Van Deventer, didampingi pegiat Komunitas Kota Toea Magelang Bagus Priyana, menelusuri jejak leluhur di Kota Magelang, Jumat (22/5/2026). (PUPUT PUSPITASARI/JAWA POS RADAR MAGELANG)

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Ada alasan kuat membawa Elsbeth de Jager terbang lintas benua menuju ke Kota Magelang memboyong serta suaminya, Melvin Van Deventer.

Ia ingin menemukan kembali rumah bersejarah yang pernah ditinggali kakek buyut, Johannes Dionijsius Winnen bersama nenek buyut, Maria Johanna van der Kaaij.

Bagi Elsbeth, arsip-arsip kuno adalah kepingan masa lalu yang harus disatukan. Meski jejak sejarah yang ingin ia buru tertinggal jauh di tahun 1906 dan 1908, ia percaya, menyelami garis waktu leluhur selalu bermuara pada sebuah kepuasan dan kenangan yang indah.

Lagi-lagi, ada alasan emosional mengapa ia ingin menjemput sejarah itu. Neneknya, Gijsberta, lahir di Magelang tahun 1906, lalu kembali ke Belanda pada 1922. Sebelum meninggal pada tahun 1996, sang nenek sempat mengirim sebuah kartu pos kepadanya.

Kartu pos itu menggambarkan aktivitas masyarakat Magelang dengan latar bangunan dan rel kereta api. Elsbeth diminta menelusuri serpihan masa lalu yang sempat berserak. Sang nenek juga menuliskan sebuah catatan, bahwa rumah yang ditinggali hanya 4 menit dari Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Magelang, tempat di mana sang kakek buyut menjadi guru di sana.

Foto Gijsberta saat tinggal di Magelang.
Foto Gijsberta saat tinggal di Magelang.

Menurutnya, menemukan rumah tinggal sang kakek buyut di Kota Magelang menjadi bagian tersulit dalam pencarian ini. Sebab tidak diketahui secara pasti, waktu tempuh 4 menit yang dimaksud itu apakah dengan berjalan kaki, bersepeda, atau berkendara.

Ia telah memulai penelurusannya dari Kantor Disdukcapil Kota Magelang, Pengadilan Negeri, Mako Polres Magelang Kota, juga beberapa sudut kota yang terdapat bangunan rumah kuno mirip dengan arsip-arsip yang dimilikinya. Tetap saja, ia belum berhasil menemukan.

“Saya sudah menemukan beberapa rumah dan beberapa sekolah (kakek buyut), dan rumah itu (di Magelang) adalah rumah terakhir yang belum bisa saya temukan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (20/5/2026).

Sebelum ke Kota Magelang, ia lebih dulu menelusuri jejak kakek buyut di Purworejo (1914). Salah satu kenangan di sana adalah sang kakek buyut menjabat sebagai kepala sekolah. Saat ini bangunan sekolah kuno itu digunakan untuk SMA Negeri 7 Purworejo.

Di OSVIA Magelang yang kini berfungsi sebagai Mako Polres Magelang Kota, Elsbeth juga tidak menemukan foto sang kakek buyut. Kebanyakan arsip yang ia jumpai di atas tahun 1927, ketika OSVIA Magelang ditingkatkan menjadi Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (MOSVIA) atau setara dengan SMA.

Di OSVIA Magelang, sang kakek buyut mengajar anak-anak pribumi setara SMP untuk menjadi pegawai negeri sipil. “Kakek buyut saya mengajar orang Indonesia untuk menjadi guru,” imbuhnya.

Meski ada sepenggal harapan yang masih tersisa, Elsbeth optimistis suatu hari nanti perjuangan merajut kembali sejarah keluarganya akan menjadi lengkap. “Saya berharap bisa menemukan rumah itu, karena jika aku telah menemukan segala sesuatu yang selalu aku cari selama bertahun-tahun, maka akan sempurna,” tuturnya tersenyum.

Di Kota Magelang, ia merasakan atmosfer yang kuat, bagaimana perjalanan yang ia tempuh akan menjadi hadiah dan cerita yang penting untuk keluarga besarnya di Belanda.

Sementara itu, Bagus Priyana, pegiat Komunitas Kota Toea Magelang, yang mendampingi Elsbeth dan Melvin di Kota Magelang mengaku terkejut dengan kembalinya mereka ke Kota Getuk ini.

Sekitar 3-4 tahun lalu, Elsbeth pernah melakukan penelusuran. Namun, masih ada beberapa tempat yang belum sempat dikunjungi. Kini, tempat-tempat itu benar-benar didatangi, salah satunya Mako Polres Magelang Kota, yang dulunya OSVIA Magelang.

“Ini sangat spesial. Ia memiliki ikatan sejarah dan emosional terhadap Kota Magelang melalui garis kakek buyutnya yang pernah menjadi guru di Europeesche Lagere School (ELS) tahun 1906 dan guru di OSVIA Magelang tahun 1908,” ujarnya.

Bagus mengatakan, sebagian kecil cerita keluarga Elsbeth ada di Kota Magelang.  Elsbeth ingin menyambung kembali jejak-jejak leluhurnya, agar tidak terputus dan hilang. “Walaupun pada kedatangan keduakalinya di Magelang, yakni misi mencari rumah kakek buyutnya, ternyata tetap tidak mudah. Meski ada foto, hingga hari ini, kami belum berhasil menemukan rumah itu,” ucapnya.

Melihat antensi dari warga Belanda yang ingin mencari jejak sejarah leluhur di Kota Magelang begitu tinggi, Bagus berharap Pemkot Magelang menjaga warisan budaya dan bangunan bersejarah agar tidak punah. (put/ton)

 

Editor : H. Arif Riyanto
#belanda #kakek #jejak pecinan magelang #Kota Magelang