RADARMAGELANG.ID, Magelang – Para pengusaha di Kota Magelang merasakan tekanan global yang terus menghantam kondisi perekonomian Indonesia. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai, dibutuhkan kekompakan antara pengusaha dan buruh untuk menghadapinya.
“Sekarang, kita harus memiliki solidaritas bersama untuk menghadapi tantangan global,” tandas Ketua Apindo Kota Magelang Eddy Sutrisno, Minggu (10/5/2026).
Eddy menyebut, perusahaan dan buruh harus bersatu untuk memikirkan nasib keberlangsungan usaha. Di tengah situasi sulit seperti saat ini, sebuah usaha dapat bertahan saja sudah dianggap suatu keberuntungan dan menjadi pencapaian yang patut disyukuri.
“Kalau pengusaha dan buruh harmonis, stabilisasi perusahaan akan terjaga,” ujarnya.
Stabilisasi ini menjadi kunci vital, agar perusahaan mampu melewati badai topan ekonomi. Belum lagi, perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) dan inflasi menjadi penyakit yang mengerikan bagi dunia usaha dunia industri (dudi).
Kedua tantangan itu sering menjadi pencetus tuntutan buruh soal kenaikan upah, seiring dengan meningkatnya biaya hidup layak. Sementara di sisi lain, kata Eddy, tekanan buruh tersebut bisa memicu gejolak baru di dalam tubuh perusahaan. Apalagi di saat yang bersamaan, kondisi perusahaan tidak dalam keadaan sehat.
“Kalau biaya hidup meningkat, buruh menuntut perusahaan, sementara perusahaan tidak sehat, lalu bagaimana bisa perusahaan memberikan kepentingan buruh? Ini harus disadari bersama, bahwa pengusaha sedang menghadapi situasi berat karena ekonomi, menghadapi kesejahteraan buruh, sekaligus menghadapi tuntutan pemerintah soal pajak,” ungkapnya.
Eddy menegaskan, perusahaan yang tidak mampu menghadapi banyak tekanan secara bertubi-tubi bisa berakhir pada nasib buruk. “Kalau perusahaan nggak sehat, semua hancur,” tegasnya.
Pihaknya berharap, pemerintah pusat hingga daerah memberikan kebijakan-kebijakan yang meringankan pelaku usaha. Selain itu, perlu adanya upaya maksimal untuk menekan laju inflasi dengan mengelola komoditas impor. Beberapa produk impor yang saat ini mendesak perlu mendapat perhatian, meliputi kedelai untuk bahan baku industri tahu dan tempe, minyak goreng, tekstil, hingga biji plastik.
“Sekali lagi, ini dibutuhkan kesadaran bersama. Buruh jangan terlalu menuntut tinggi, pemerintah juga jangan menuntut perusahaan dengan aturan yang ketat, kita harus sedikit melonggar, supaya itu menjadi jalan keluar,” pintanya.
Terpisah, salah satu buruh di Kota Magelang, Aditya, mengaku, kondisi perusahaan tempat ia bekerja sedang mengalami kondisi sulit. Perusahaannya mengambil langkah efisiensi demi menjaga kesehatan keuangan perusahaan. “Efisiensi sudah menyentuh banyak lini, mulai dari penghematan penggunaan air, listrik, untuk bonus-bonus karyawan juga sudah mulai berkurang. Tapi masih untung, gajian tidak di bawah UMK,” ujarnya.
Sebagai buruh, Aditya juga tetap menyuarakan haknya. Meski kondisi perusahaan sulit, ia berharap agar jaminan sosial kesehatan maupun ketenagakerjaan tidak ikut tercekik.
“Gaji sekarang habis untuk kebutuhan dapur, sekolah anak, dan bensin kerja. Sudah mepet untuk menabung, sehingga kita tetap berharap iuran jaminan sosial tetap diperhatikan perusahaan, karena kalau sampai karyawan sakit, kita sudah tidak punya uang untuk biaya berobat,” ungkapnya. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto