RADARMAGELANG.ID, Magelang – Belajar sains itu menyenangkan. Pernyataan itu tak berlebihan bila menyaksikan siswa SD Negeri Potrobangsan 3 Kota Magelang menyemarakkan acara Science Day, Jumat (8/5/2026).
Siswa kelas 1 sampai 5 tampak gembira dengan eksplorasi sains yang dilakukan sesuai tema.
Wajah mereka ceria, penuh semangat dan rasa ingin tahu yang besar. Bila percobaannya berhasil, tepuk tangan meriah menyertai rasa bangga yang terpancar di wajah mereka.
Aza, bersama Ubaid, dan Adnan, siswa kelas 5, sibuk membuat simulasi bencana.
“Saya mempraktikkan peristiwa banjir. Jadi tahu bagaimana banjir itu bisa terjadi. Asyik pokoknya hari ini,”tutur Aza sembari menunjukkan pasir dan botol air mineral, peralatan untuk simulasi banjir.
Hal senada diungkapkan Ubaid yang membuat simulasi gempa bumi. “Gempa itu terjadi karena ada pergeseran lempeng di dalam bumi,”cetus Adnan.
Semua anak pagi itu sibuk dengan percobaan masing-masing sesuai kelasnya.
Untuk kelas 1 membuat percobaan tenggelam-mengapung, kelas 2 displai alat penyaring air sederhana dan membuat kincir angin.
Sedangkan kelas 3 pertunjukan wayang dan displai kangkung. Kelas 4 membuat mobil balon, dan kelas 5 simulasi bencana.
Pembukaan Science Day ditandai dengan peluncuran mobil balon oleh Juwanah (pengawas SD Dinas Pendidikan Kota Magelang), kepala SDN Potrobangsan 3, Komite Sekolah dan Paguyuban Orang Tua Murid.
Penanggung jawab kegiatan Science Day, Dwi Laelasari mengatakan kegiatan ini bagian dari program inovasi sekolah, Sainstastika Bangga (Sains Terintegrasi, Kontekstual dan Berbasis Karya) 2025/2026 dari SDN Potrobangsan 3.
“Science Day diadakan sebulan sekali pada hari Jumat minggu keempat. Untuk hari ini kegiatannya eksplorasi sains. Eksplorasi itu berhubungan dengan materi dari kelas masing-masing. Misalnya kelas 1 percobaan terapung tenggelam, ini berhubungan dengan materi kokurikuler kelas satu tentang bahan penyusun benda,”ujarnya.
Belajar sains dengan cara eksperimen langsung meskipun sederhana akan membuat anak tertarik.
Kegiatan ini ungkap Dwi akan memacu anak bernalar kritis. Anak diajak berpikir dan bisa mengidentifikasi benda.
“Anak-anak tahu banjir tapi tidak tahu penyebabnya. Dengan praktik, mereka akan paham. Menjadi waspada. Dan timbul kesadaran untuk mencegah banjir,”imbuhnya.
Ia juga mencontohkan praktik menanam kangkung. Anak-anak menjadi berpikir bahwa untuk menjadi sayuran kangkung itu memerlukan proses panjang.
Mulai dari menyiapkan media, menanam benih, tumbuh hingga menjadi sayur. Anak-anak bahkan ada yang tertarik untuk mencoba menanam di rumah.
Bulan depan keguatan Science Day bertema jelajah alam sekitar. Anak-anak diajak keliling sekitar sekolah sambil mengamati lingkungan yang dikaitkan dengan materi pelajaran. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo