RADARMAGELANG.ID, Magelang–Pura Jagat Natha resmi dibangun di kompleks eks-BPLK Kementerian Keuangan. Peletakan batu pertama dilakukan Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, Rabu (6/5/2026). Sebelumnya, pura ini akan dibangun di kompleks Loka Budaya, selatan Alun-alun Kota Magelang.
Damar Prasetyono menyampaikan, kehadiran pura di pusat kota ini merupakan impian lamanya untuk melengkapi simbol keberagaman di Kota Magelang. Selama ini, Alun-alun Magelang sudah dikelilingi oleh tempat ibadah lain, yakni Masjid Agung, gereja, dan kelenteng.“Hadirnya pura ini menjadi pelengkap keragaman rumah ibadah di pusat kota berdampingan melingkar dengan Masjid Agung, Gereja St Iganitius (Katolik), Gereja GPIB Beth-El (Kristen) dan Kelenteng Liong Hok Bio,” jelasnya.
Ia mengaku, proses pembangunan tidak mudah. Awalnya, akan dibangun di Loka Budaya. Namun akhirnya diputuskan di kompleks eks-BPLK Kementerian Keuangan yang sudah dihibahkan kepada Pemkot Magelang.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Magelang I Gede Mahardika menjelaskan, nama Pura Jagad Natha bermakna pura sebagai perlindungan, pemeliharaan, dan pembersihan jagad.
Pembangunan diawali dengan ritual Ngruak Pertiwi. Upacara yang dipimpin oleh Sulinggih Romo Wikhu Satyadharma Telaga dari Salatiga ini, merupakan bentuk permohonan izin kepada alam semesta sebelum tanah dibongkar untuk pembangunan. “Prosesi ini wajib dilakukan sebelum membangun Pura, pada hari (waktu) baik,” kata Gede.
Pura Jagat Natha berdiri di atas lahan seluas 9 x 25 meter yang merupakan aset Pemkot Magelang. Sesuai konsep arsitektur Hindu, lahan akan dibagi menjadi tiga bagian utama yakni Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala.
Mandala Utama adalah Area suci untuk tiga bangunan utama (Pelinggih), yaitu Padmasana, Panglurah (simbol penjaga wilayah termasuk Gunung Tidar), dan Gedong Suci (penyimpan sarana ibadah). Struktur bangunan ini didatangkan langsung dari Bali.
Madya Mandala adalah area tengah untuk persiapan kegiatan keagamaan dan penyimpanan gamelan. Nista Mandala adalah area paling depan, yang akan dilengkapi dengan Balai Kulkul sebagai penanda kegiatan ibadah, seperti lonceng di tempat
Pembangunan Pura Jagat Natha ini mencatatkan sejarah baru, mengingat Kota Magelang sebelumnya belum memiliki pura untuk umum. Selama ini, umat Hindu menggunakan fasilitas milik Akademi Militer yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Magelang.
Ia menjelaskan, meski lahannya disediakan oleh pemerintah, seluruh biaya konstruksi yang diperkirakan mencapai Rp 800 juta bersumber dari swadaya murni. Dana tersebut dikumpulkan melalui kas PHDI Kota Magelang, kontribusi para pengusaha, pihak perbankan, hingga jaringan komunitas lintas agama.
"Pembangunan ini sepenuhnya mengandalkan dana swadaya, bukan dari APBD. Total kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp800 juta, yang dihimpun dari kas PHDI, sumbangan umat Hindu, pengusaha, hingga dukungan komunitas lintas iman," terangnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto