RADARMAGELANG.ID, Magelang – Kesehatan mental di kalangan remaja tengah mengarah pada perilaku Non-Suicidal Self-Injury (NSSI) atau melukai diri sendiri, seperti menyayat tangan tanpa tujuan mengakhiri hidup.
Kondisi ini mengunggah perhatian dosen dan mahasiswa Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta, untuk melakukan penelitian dan menciptakan metode penanganan kesehatan mental yang efektif untuk remaja melalui dukungan teman sebaya dan art therapy atau terapi seni.
Metode ini kemudian diterapkan di SMK Citra Medika Kota Magelang.
Tim pengabdian ini diketuai oleh Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, SpKJ dan wakilnya, Dr. Dra. Sumarni DW, MKes; serta anggota Dr. dr. Budi Pratiti, SpKJ; Dr. Dwi Retno Adi Winarni, SpDVE., Subsp.DKE., FINSDV, FAACV; dan Aviria Ermamilia, SGz., M.Gizi., RS.
Dr. Dra. Sumarni DW, M.Kes menjelaskan, sebelum metode ini diterapkan, telah dilakukan penelitian mengenai efektivitas terapi seni dan dukungan sosial teman sebaya dalam menurunkan angka depresi dan NSSI.
Hasilnya mengejutkan.
Dari hasil skrining diketahui angka nasi dan depresi cukup tinggi yang didorong oleh tekanan gaya hidup, dan paparan media sosial.
Pihaknya kemudian melatih 20 anak sebagai kader agen sebaya, dan nantinya berperan melakukan pendekatan kepada siswa lainnya.
“Mereka kita latih dulu bagaimana cara mendekati teman-temannya, metode pemulihannya, setelah itu mereka akan kami lepas dan didampingi oleh guru BK,” jelasnya, Rabu (29/4/2026).
Sumarni menyebut, perilaku NSSI tidak bisa dianggap sepele, sebab dapat mengakibatkan kecacatan maupun kecenderungan untuk bunuh diri.
Pencegahan pun dilakukan tidak hanya berfokus pada individu, tapi juga menyasar pada penguatan lingkungan sosial yang suportif.
“Intervensi berbasis art therapy terbukti efektif menurunkan kecenderungan depresi dan perilaku NSSI, dan masalah kesepian,” ucapnya didampingi Kepala SMK Citra Medika Kota Magelang Veronica Rani.
Dengan dukungan teman sebaya, anak-anak yang sedang mengalami masa sulit secara emosional lebih mudah untuk menceritakan permasalahan mereka, ketimbang dengan guru BK maupun orang tua. Dukungan sosial dari teman diyakini menurunkan risiko isolasi dan melukai diri. Sedangkan terapi seni bisa menjadi media ekspresi emosi yang aman.
“Tujuan kita tidak hanya mencapai kesejahteraan mental bagi anak-anak, tapi juga menciptakan lingkungan sekolah sebagai tempat belajar yang aman, inklusif, dan suportif,” tambahnya.
Dalam intervensi terapi seni, pihaknya menggandeng Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dan pegiat seni lainnya.
Ibnu Widodo, pendiri OCIG Studio Jogjakarta mengapresiasi penggunaan terapi seni untuk mendukung pemulihan kesehatan mental remaja.
Kegiatan seni yang diterapkan antara lain seni tari dan seni peran atau teater.
Ibnu memandang, seni tari dan peran bermanfaat untuk olah rasa, olah tubuh, dan olah vokal. Ketiganya bisa menjadi media untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran secara komprehensif.
Berbeda pada tari umumnya, seni tari dalam terapi seni tidak mengutamakan pakem gerakan tari.
Tapi berfokus pada gerakan pelepasan emosi, sampai mereka merasa lebih tenang.
“Tari sangat penting diberikan untuk remaja, karena ini adalah salah satu kebudayaan kita, harus kita jaga. Semakin kita dekat dengan kesenian, semakin tinggi pula rasa cinta kepada budaya kita, dan karakter seperti ini mampu membentengi diri dari pengaruh budaya luar,” imbuhnya.
Siswa kelas 10 keperawatan SMK Citra Medika Aulia Dewi Cahyani mengaku senang terpilih sebagai agen kader sebaya.
Ia berharap, perannya di sini dapat membantu teman-temannya yang sedang menghadapi masalah.
“Aku suka dicurhati. Semoga aku bisa membantu mereka lebih semangat lagi,” pungkasnya. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto