RADARMAGELANG.ID, Magelang - Nuansa seni terasa kental ketika memasuki gedung Tri Bhakti yang berada di Jalan Jenderal Sudriman no 68A Kota Magelang.
Begitu masuk ke pintu utama, tamu undangan akan disuguhi berbagai lukisan yang dipajang di sisi depan, kanan dan kiri.
Ditambah patung laki-laki dan perempuan seolah menyambut para tamu. Sekaligus mengaskan empunya pesta adalah pecinta seni rupa.
Tak hanya itu, beberapa kanvas kosong dan peralatan melukis disiapkan. Menunggu seniman menggoreskan cat di atas kanvasnya.
Dokter Oei Hong Djien yang akrab disapa OHD berhasil menyulap pesta ulang tahunnya yang ke-87 menjadi ajang berkumpulnya para tokoh.
Pengusaha, seniman, budayawan, politisi, TNI/Polri, keluarga dan masyarakat berinteraksi merayakan kegembiraan bersama. Sekaligus menciptakan ruang berekspresi.
Tampak hadir para tokoh terkemuka Indonesia. Ada budayawan Goenawan Mohamad, seniman Sujiwo Tejo dan pelukis kenamaan Nasirun. Wali Kota Magelang Damar Prasetyono juga hadir di acara tersebut.
Mencapai usia 87 tahun, OHD mengaku bahagia, karena tidak semua orang bisa mencapai angka tersebut. “Kunci panjang usia dan merasa muda adalah dansa,”ujar OHD sambil tertawa disambut tepuk tangan. Pernyataannya itu sejalan dengan tulisan di kue ulang tahunnya : live, love, dance.
Maka tanpa berlama-lama OHD pun tampil di arena. Berdansa indah. Energik dan harmonis bersama pasangannya yang jauh lebih muda.
Mengenakan batik biru dipadu celana putih dan sepatu hitam, OHD menjadi bintang di arena dansa malam itu. Usia 87 tahun hanyalah angka.
Realitasnya, pendiri Museum OHD ini membuktikan diri sebagai jawara dancer. Dansa menjadi hobi pria yang juga dikenal sebagai grader tembakau itu.
Klub-klub dansa dari berbagai kota yang hadir tidak ketinggalan, turut melantai mengikuti irama musik yang menggema. Maka, ruangan Tri Bhakti menjelma arena semarak dansa.
Tak berhenti di situ, OHD menunjukkan kepiawiannya memainkan biola. Lagu Dont Cry for Me Argentina mendayu indah dari gesekan biolanya.
Applaus pun menggema. OHD tak hanya dancer, ia juga pemain biola. Tak heran bila pada kesempatan tertentu, ia tampil memainkan alat musik kesayangannya itu.
Di tengah semarak dansa yang terus berlangsung, para seniman beranjak ke kanvas kosong. Goenawan Mohamad, Nasirun dan Sujiwo Tejo memilih kanvas masing-masing dan mulai menggerakkan tangannya.
Aksi tersebut mengundang perhatian tamu lain. Di sela-sela melukis, para tokoh sibuk melayani foto-foto dari tamu undangan.
Beberapa saat kemudian, Sujiwo Tejo yang tampik eksentrik bunga di telinga kiri dan topi koboi mulai menggores kanvasnya.
Lantas jadilah lukisan semacam sketsa orang-orang dalam lingkaran. Barangkali menggambarkan kemeriahan pesta dansa malam itu. Sementara kanvas Goenawan Mohamad tergambar kepala elang.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono mengakui OHD adalah sosok yang luar biasa. Mampu mendatangkan berbagai tokoh terkemuka ke Kota Magelang. “Beliau itu center of gravity. Tokoh inspirasi Indonesia,”ujarnya.
Senada, Goenawan Mohamad mengatakan OHD adalah sosok murah hati. Dia murah hati memberikan ruang pada seniman untuk mengembangkan diri, berkreasi.
“Saya sudah berteman lama dengan OHD. Dia teman kakak saya,”ungkapnya.
Sampai jauh malam, OHD masih terlihat segar dan gembira menerima ucapan serta foto bersama dari kolega, pun sahabat. Termasuk dari Direktur Jawa Pos Radar Semarang, Baehaqi.
“Wah saya senang sekali Bapak bisa datang,”cetus OHD ketika menerima ucapan dari Baehagi.
Malam itu tak sekadar pesta dengan aneka sajian makan minum, namun ruang bagi seniman berekspresi juga pemersatu keberagaman lintas seni. (lis)
Editor : Lis Retno Wibowo