Untidar menapaki langkahnya sebagai perguruan tinggi negeri dengan filosofi kuat "Untidar Unggul Berbudaya, Alumni Kompak Berdampak.
Artinya keunggulan akademik dan non-akademik adalah fokus utama kita. Namun, keunggulan tersebut harus dilandasi oleh nilai-nilai budaya luhur, terutama yang tumbuh di kancah peradaban Magelang dan Nusantara.
“Lulusan Untidar haruslah pribadi yang tidak hanya cerdas secara ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, etika, dan kemampuan menjaga serta mengembangkan budaya bangsa. Jadilah lulusan yang unggul dalam kompetensi, tetapi tetap berbudaya dalam berperilaku,” tutur Rektor Untidar Prof. Dr. Sugiyarto, M.Si.
Selain itu, rektor juga berharap hari “wisuda” merupakan titik penting perjalanan akademik.
“Sebuah momentum yang bukan hanya menandai akhir dari proses belajar di bangku kuliah, tetapi juga awal dari pengabdian nyata di tengah masyarakat,” tambahnya.
Menurutnya, tren lulusan saat ini juga menunjukkan peningkatan minat untuk melanjutkan studi S2 baik di dalam negeri maupun luar negeri.
“Saya cukup terenyuh melihat ada putra dari tenaga CS (cleaning service) yang juga berhasil wisuda. Bahkan ada mahasiswa dari latar belakang kurang mampu yang dalam proses studinya membutuhkan waktu lama dan pendampingan intensif, namun akhirnya tetap bisa lulus,” jelasnya.
Wisuda Untidar ke-73 ini meluluskan 528 wisudawan yang terdiri atas 511 program Sarjana, 7 Sarjana Terapan dan 10 Ahli Madya. Dari seluruh wisudawan sebanyak 24 wisudawan lulus dengan gelar Cumlaude atau dengan pujian.
Seperti pewisudaan sebelumnya, Untidar memberikan penghargaan kepada 10 mahasiswa, yaitu 5 wisudawan terbaik akademik dan 5 wisudawan terbaik non akademik.
Septiawan Puji Trianto, wisudawan dari Prodi Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menjadi Wisudawan Terbaik Akademik.
Unyil --panggilan akrabnya-- meraih IPK 3,91 dengan masa studi 3 Tahun 5 Bulan 9 Hari.
“Kuliah itu utamanya ya akademik. Walau kuliah sambil kerja dan organisasi semua bisa dilaksanakan bersamaan dengan cara membuat skala prioritas,” ujar Unyil.
Bagi wisudawan asal Desa Danasari, Kecamatan Karangjambu, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah ini, prestasi menjadi wisudawan terbaik merupakan kesempatan untuk “menaikkan derajat” orang tua.
“Aku dari keluarga yang kurang mampu, kalau bukan sekarang kapan lagi mau menaikkan derajat atau membanggakan mereka, mau kapan lagi? Ada orang tua dan keluarga lain yang bergotong royong mendukung saya sampai bisa kuliah bahkan lulus saat ini,” jelasnya.
Putra pasangan Abdul Manaf dan Rumini ini ingin membuktikan putra dari seorang bakul ikan pindang juga bisa sukses.
Pada saat menyampaikan sambutan sebagai wakil wisudawan, Unyil membuat permintaan khusus kepada rektor.
“Ke Magelang naik sepeda, Jangan lupa membeli pita. Untuk bapak rektor yang mulia. Bolehkah saya meminta beasiswa S2?” katanya saat menyampaikan sambutan disambut riuh suara dan tepuk tangan dari rekan wisudawan serta orang tua wisudawan.
Kepada Jawa Pos Radar Magelang, Unyil mengaku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
“Saya berencana melanjutkan S2 dengan mencari beasiswa terlebih dahulu. Cita-cita saya ke depan adalah menjadi akademisi atau dosen,” ujar Unyil.
Zidan Rizka Alhafidz, wisudawan dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan mendapat penghargaan menjadi wisudawan terbaik non akademik.
Zidan memiliki sejumlah prestasi di lingkup artikel ilmiah, jurnal ilmiah dan olimpiade mahasiswa.
Ia lulus dengan IPK 3,83 dengan masa studi 3 Tahun 5 Bulan 11 Hari.
Yang menarik, Zidan lulus tanpa skripsi atau menggunakan jalur artikel ilmiah sebagai pengganti skripsi.
“Judul artikel ilmiahnya Development of Teaching Materials for Popular Scientific Articles Using Contextual Approach for Grade VIII Students lolos publikasi di jurnal Sinta 3,” jelas wisudawan asal Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini.
Putra pasangan Istar Khoirudin dan Sunarni Kusmiatun ini mengaku sudah mulai merancang karya ilmiahnya mulai semester 6.
“Saat ada info dari jurusan bisa mengganti skripsi dengan artikel ilmiah, mulailah saya menyusun strategi. Bahkan saya memanfaatkan lokasi PPL (Praktek Pengalaman lapangan) sekaligus untuk mencari data pendukung. Jadi selesai PPL bisa langsung mengolah data,” lanjutnya.
Senada dengan Unyil, prestasi wisudawan terbaik ini merupakan persembahan untuk kedua orang tuanya.
Tidak bisa dipungkiri selama mengkuliahkannya di Untidar pastinya banyak perjuangan yang mungkin tidak ditunjukan.
“Yang jelas bisa membanggakan orang tua, ini tujuan utama dari awal perkuliahan. Dan ternyata sekarang bisa jadi wisudawan terbaik,” katanya.
Wisuda kali ini juga mencerminkan keberagaman mahasiswa Untidar yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dengan mayoritas berasal dari Jawa Tengah.
Hal ini menunjukkan semakin luasnya jangkauan Untidar sebagai perguruan tinggi negeri.
Melalui wisuda ini, Untidar berharap para lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. (m tegar julianto/aro)
Editor : H. Arif Riyanto