RADARMAGELANG.ID, Magelang – Di tengah desakan efisiensi anggaran, Pemkot Magelang tetap mengadakan Grebeg Gethuk 2026 pada 12 April mendatang. Bukan tanpa alasan. Perhelatan itu sebagai ikon perayaan Hari Jadi Kota Magelang dan menambah keramaian kota.
Bagi Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, acara Grebeg Gethuk memberikan efek domino terhadap aktivitas kota. Pariwisata, bisnis perhotelan, sampai usaha ekonomi kerakyatan mendapat imbas dari hajatan ulang tahun Kota Magelang itu.
“Kita ini kota jasa. Nggak punya sumber daya alam (SDA). Agar kota kita ramai dikunjungi banyak orang, kita harus membuat event,” terangnya, pekan lalu.
Masyarakat, terutama UMKM, diklaim selalu menantikan acara. Baik yang dihelat untuk acara monumental, maupun sekadar hiburan.
Grebeg Gethuk dipastikan sama sekali tidak mengganggu anggaran pendidikan, walaupun instansi yang menjadi penanggung jawab dan pelaksana acara adalah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang. Pendanaan acara tetap di luar anggaran pendidikan yang bersifat wajib.
Ketegasan Damar itu menepis kekhawatiran publik, anggaran pendidikan akan tergerus untuk urusan acara lain, seperti pesta rakyat. “Kita sampaikan, bahwa mandatory spending pada Dinas Pendidikan, tetap terpenuhi. Tidak akan diotak-atik,” tegasnya.
Mandatory spending pendidikan sendiri telah diatur oleh regulasi. Secara konstitusional, pemerintah wajib mengalokasikan minimal 20 persen dari APBN/APBD untuk dunia pendidikan.
“Kita tidak mau bernegosiasi perihal mandatory spending, karena itu merupakan keputusan atau amanah UUD 1945 Pasal 31 Ayat 4, serta UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Itu jelas menjadi pedoman kami,” imbuhnya.
Saat ini, Pemkot Magelang menanamkan prinsip low budget, high impact. Model kerja sama hexahelix diterapkan dengan menggandeng elemen pemangku kepentingan. Meliputi pemerintah, pelaku usaha, media, kelompok masyarakat, dan teknologi informasi.
Segala perhelatan yang mengundang massa dan memberikan sarana hiburan masyarakat, sekarang ini tidak sepenuhnya didanai dari anggaran pemerintah. Pihaknya membuktikan diri, bahwa kolaborasi dengan pihak ketiga telah berjalan baik di kotanya, sehingga anggaran yang digelontorkan pemerintah lebih irit dari sebelumnya.
Ia mencontohkan, acara Magelang Great Sale (MGS) dalam rangka Hari Jadi ke-1120 Kota Magelang telah menggandeng para pengusaha dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi). Para pengusaha memberikan diskon yang cukup besar selama periode berlangsung.
Tidak hanya itu saja, banyak pelaku usaha yang menjadi penyokong anggaran atau sponsorship dalam berbagai acara lain, seperti Tidar Borobudur 10K. Damar menyebut, ada pengusaha toko emas di kotanya yang memberikan hadiah logam mulia kepada peserta lari yang beruntung.
Kemudian pada acara Grebeg Gethuk, pihaknya memberikan peluang kepada UMKM di 17 kelurahan untuk mengisi stan secara cuma-cuma, alias gratis. “Masyarakat kita prioritas,” imbuhnya. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto