Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Karet Magelang Mendunia! Pengusaha Lokal Teguh Suroso Jadi Pemasok Industri

H. Arif Riyanto • Minggu, 5 April 2026 | 08:08 WIB
Teguh Suroso Pengusaha Karet Asal Magelang (Foto: Kelompok Penyuluhan dan Komunikasi Universitas Tidar)
Teguh Suroso Pengusaha Karet Asal Magelang (Foto: Kelompok Penyuluhan dan Komunikasi Universitas Tidar)

 

RADARMAGELANG.ID, Magelang — Kisah inspiratif datang dari Teguh Suroso, seorang pengusaha karet lokal asal Tubansari, Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, yang berhasil menembus pasar industri hingga berkontribusi dalam rantai pasok global.

Berawal dari melakukan budidaya tanaman karet sejak 2009, kini ia dikenal sebagai pemasok karet yang bermitra dengan berbagai perusahaan.

Langkah berani ini dimulai dengan membeli bibit karet dari seorang penjual keliling asal Sumatera.

Perjalanannya tidak mudah, pasalnya tanaman karet pada masa itu masih dianggap sebagai "tanaman aneh" oleh masyarakat sekitar.

Dengan minimnya pengetahuan mengenai cara tanam maupun target penjualan, ia terus belajar secara autodidak hingga akhirnya mulai merintis usaha pengepulan pada 2011. 

Kesabaran tersebut terbayar lunas saat kebunnya mengalami panen raya perdana pada 2017.

Proses Produksi dan Penjagaan Kualitas

Dalam kesehariannya, produktivitas kebun terbilang sangat baik dengan rasio produksi satu pohon menghasilkan satu mangkok getah per hari.

Tanaman karet ini terus berproduksi setiap hari, kecuali saat musim hujan.

Untuk menyiasati getah yang masih cair saat musim hujan, digunakanlah cairan asam semut agar karet dapat segera memadat sebelum dijual.

Konsistensi mutu menjadi kunci utama dalam bisnis ini.

Sang pengusaha secara ketat menjaga kualitas sejak dari hulu dan terus mengedukasi para petani binaannya.

"Hampir tidak ada kegagalan apabila barang dari petani itu bagus dan murni. Tingkat risiko kegagalan mungkin hanya sekitar 5% selama kami bermitra," jelasnya. 

Kemitraan Pabrik dan Menembus Pasar Ekspor

Kualitas karet yang bersih dan murni inilah yang membuatnya berhasil menembus standar ketat pabrik-pabrik besar.

Melalui relasi dari seorang teman, ia kini telah menjalin kemitraan selama kurang lebih 9 tahun dengan sejumlah pabrik besar, di antaranya: 

PT.  Ruberindo Pratama (Kendal) dan CV. Jadi Jaya Makmur (Semarang).

Setiap pengiriman biasanya menggunakan truk dengan kapasitas berkisar antara 8 hingga 10 ton tergantung kondisi.

Proses masuk ke pabrik membutuhkan standarisasi K3 dan pengujian sampel.

Jika sampel lolos, pabrik akan menetapkan harga dan komoditas tersebut diolah hingga mencapai wujud 70% sebelum akhirnya diekspor, yang mayoritas dikirim ke Tiongkok.

Sistem pembayarannya pun profesional melalui skema transfer bank setelah barang dibongkar, ditimbang, dan disepakati hasilnya.

Saat ini, harga karet berada di angka Rp 16.856 per kilogram.

Meski demikian, tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah fluktuasi harga yang sangat bergantung pada Singapura Komoditi.

Untuk mengatasinya, ia menggunakan strategi menahan stok (menampung barang) saat modal masih kuat, atau terpaksa menjual sesuai harga kesepakatan pasar saat modal sedang menipis.

“Kalau harga naik turun, kami bertahan dengan menampung kalau ada modal, kalau tidak ya dijual sesuai harga yang disepakati,” jelasnya.

Pabrik sendiri tidak memberikan tekanan produksi, melainkan siap menampung suplai sebanyak-banyaknya dari hasil panen.

Dampak Sosial bagi Masyarakat Sekitar

Keberadaan usaha karet ini membawa angin segar bagi perekonomian warga lokal.

Saat ini, usaha tersebut menyerap 5 hingga 6 orang tenaga kerja yang berasal dari lingkungan sekitar (tetangga dan kerabat).

Selain itu, ia juga merangkul sekitar 20 petani karet di wilayah Tubansari untuk dibeli hasil panennya.

Karena karet dapat dipanen setiap hari, komoditas ini menjelma menjadi penolong ekonomi harian bagi masyarakat, meskipun wilayah Tubansari belum memiliki Kelompok Tani resmi seperti yang ada di Yogyakarta karena keterbatasan jumlah petani.

Strategi menghadapi persaingan pun dilakukan dengan terus turun ke lapangan untuk menyerap hasil pertanian warga secara langsung.

Volume suplai yang besar memungkinkan usahanya mendapatkan penawaran harga yang lebih istimewa dari pihak pabrik, menghapus stigma awal di mana karet dari Magelang sempat ditawar dengan harga lebih murah.

Harapan dan Visi ke Depan

Pengusaha ini memiliki visi yang kuat untuk terus menjaga konsistensi dan stabilitas komoditas karet dari Magelang.

Melalui perjalanan panjang yang penuh pasang surut, ia memetik pelajaran berharga bahwa dinamika bisnis justru memberikan rasa kepuasan dan pembelajaran tersendiri. Kesannya terhadap 

Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, khususnya dalam bentuk dukungan pengadaan bibit untuk memperluas area budidaya tanaman karet di wilayah tersebut.

Standarisasi volume yang menjadi kendala akibat keterbatasan jumlah pohon perlahan dapat diatasi jika budidaya diperluas.

"Banyak yang bisa diperoleh dari sektor pertanian jika kita benar-benar tertarik dan menekuninya. Semua kembali kepada kemauan diri sendiri dan masyarakat" pungkasnya memberikan pesan inspiratif. (*/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#universitas tidar #pengusaha #kualitas #ekspor #salaman magelang