RADARMAGELANG.ID, Magelang—Ribuan umat Katolik dari sejumlah daerah mengikuti prosesi kirab salib yang digelar Gereja Katolik Paroki St. Ignatius Magelang, Jumat (3/4/2026) pagi. Mereka berjalan kaki dari Gereja Santo Ignatius Magelang melewati Jalan Veteran, Jalan Ahmad Yani, depan kantor PDAM, Mako 2 Polres Magelang Kota, Alun-alun Kota Magelang, dan berhenti di depan Mapolres Magelang Kota. Setelah beristirahat dan acara seremonial, mereka kembali ke Gereja Santo Ignatius Magelang.
“Kirab salib ini sebagai wujud nyata Gereja Katolik untuk tampil dan berkontribusi bagi Kota Magelang,” ungkap Ketua Panitia Kirab Salib Albertus Indra F kepada Jawa Pos Radar Magelang di sela-sela acara kirab.
Indra mengatakan, acara kirab ini juga upaya untuk mensupport keberagamaan dan toleransi. Tujuannya, untuk bisa menyatukan perbedaan dan merekatkan kerukunan di Kota Magelang. “Di Polres Magelang Kota ada acara simbolis bersama wali kota dan wakil wali kota Magelang. Dilanjutkan dengan proses peragaan Yesus memanggul salib menuju halaman Gereja Katolik Santo Ignatius,” jelasnya.
Kepala Paroki Santo Ignatius Romo FX Alip Suwito Pr mengatakan, di momen Jumat Agung wafatnya Isa Al Masih kali ini, secara khusus pihaknya ingin mengajak umat untuk mendalami prosesi perjalanan atau kirab salib, serta membawa relique salib Tuhan.
“Relique salib ini merupakan asli dari salib Yesus yang dibawa ke tempat ini sejak 1900. Jadi kurang lebih sudah 126 tahun berada di sini,” ujar Romo Alip Suwito.
Romo Alip menjelaskan, makna jalan salib ini adalah upaya para umat untuk ikut serta ambil bagian dalam cinta Tuhan. Juga sebagai upaya untuk berbakti, menghormati perjalanan jalan salib.
Ia bersungguh-sungguh ingin membawa toleransi keberagamaan dan tentu yang paling penting adalah di dalam kasih dan berkat Tuhan. Meski bicara soal salib itu adalah penderitaan, namun di sini justru seperti yang disampaikan Wali Kota Magelang Damar Prasetyono, tanpa berkorban, cinta itu hanya omong kosong.
“Maka cinta itu pasti berkorelasi dengan berkorban. Dan pengorbanan yang dilakukan oleh Yesus ini adalah kami yang persembahkan untuk Kota Magelang,” ucapnya.
“Ini adalah cara kami selain menghayati dan mengimani untuk kehidupan kami sebagai umat beriman Katolik. Tetapi kita juga tidak lupa, kalau kami ini tinggal mengakar bersama di Kota Magelang,” imbuhnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto