RADARMAGELANG.ID, Magelang – Paguyuban Peternak Petelur Magelang (P3M) di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, berperan aktif membantu pemerintah dalam upaya stabilisasi pasokan dan harga pangan murah. Mereka hadir dan mendukung pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) di wilayah setempat.
Anggota P3M Secang, Gabriel Sas Hernando Nurhadi mengatakan, pihaknya mendukung kegiatan pasar murah untuk membantu masyarakat mendapatkan pangan dengan harga lebih terjangkau. Kegiatan ini juga memperpendek rantai distribusi, sehingga produk dari peternak dapat langsung sampai ke tangan masyarakat.
“Bagi para peternak, kegiatan ini juga bentuk gotong royong dan partisipasi untuk ikut menjaga keseimbangan pasar di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat jelang Lebaran,” kata Nando—sapaan akrabnya—dihubungi Jawa Pos Radar Magelang, Minggu (15/3/2026).
Komitmen itu dibuktikan dengan kesediaan para peternak petelur menyuplai stok barang yang dijual pada GPM Secang, Senin (9/3/2026) lalu.
Menurut Nando, banyak kegiatan GPM menjelang Lebaran tidak mengurangi keuntungan peternak, meskipun harganya menjadi lebih murah.
“Pada umumnya tidak. Dalam kegiatan pasar murah, peternak tetap diajak berpartisipasi secara langsung, sehingga harga yang diberikan juga masih dalam batas yang wajar. Justru hal ini membantu menjaga keseimbangan pasar, agar harganya tidak terlalu melonjak tinggi, tetapi juga tidak terlalu rendah untuk peternak,” paparnya.
Pihaknya pun puas melihat antusias masyarakat yang tinggi. Stok telur yang dibawa cepat terserap pasar, langsung sampai ke tangan konsumen. “Ini yang membuat sirkulasi atau perputaran barang lebih cepat, dan itu sangat penting karena membantu menjaga arus kas usaha tetap sehat,” imbuhnya.
Terkait dengan jumlah produksi dihadapkan permintaan menjelang Lebaran, kata Nando, peternak di wilayah Secang mampu memenuhi permintaan itu. Malahan mereka tidak hanya melayani untuk kebutuhan lokal saja, namun juga disalurkan ke beberapa wilayah lain yang relatif berdekatan.
“Apalagi yang di bawah koordinator wilayah (korwil) kami, distribusi ini tetap berjalan aktif, terutama saat permintaan meningkat seperti Ramadan, juga untuk hari-hari besar lainnya,” ujarnya.
Sinergi ini terbangun berkat kekompakan antarpeternak. Pihaknya rutin melaksanakan koordinasi, baik kepada antarpeternak, kepada pemerintah, juga kepada para pelaku pasar. “Dengan begitu, stabilisasi harga telur dapat terus terjaga.”
Komunikasi dengan pemerintah dijalin, agar peternak mendapatkan solusi jika sedang mengalami kendala. Saat ini, peternak menghadapi tantangan yang cukup beragam. Pertama, biaya pakan yang relatif cukup tinggi. “Bahan baku seperti jagung, bekatul, konsentrat, vitamin, mineral, hingga bungkil kedelai sangat memengaruhi biaya produksi,” sebutnya.
Kedala yang kedua, fluktuasi harga telur di pasar. Ketiga, risiko penyakit pada ternak yang selalu menjadi perhatian utama bagi peternak, terutama pada musim penghujan.
“Musim seperti ini, peternak harus bekerja lebih keras dalam menjaga kesehatan ayam. Karena itu, peternak sangat berharap ada kesinambungan antara biaya produksi dan harga jual telur di pasar,” pungkasnya. (put)
Editor : H. Arif Riyanto