RADARMAGELANG.ID, Magelang—Kemunculan Suryono, pedagang es goyang asal Wonosobo, sedikit mengobati kekecewaan pengujung Pasar Cepit Jadoel, di Botton, Kelurahan Magelang.
Pasalnya, meski mereka datang 30 menit setelah acara dibuka, tetap saja tak kebagian jajanan pasar yang sudah mereka rindukan.
Pantauan Jawa Pos Radar Magelang, lapak-lapak dari bambu masih berjejer rapi.
Tapi tak ada pedagang yang menungguinya.
Tidak dijumpai pula jajanan zaman dulu seperti yang tercantum pada flyer, misalnya sego megono, wajik, ndog gludug, ongol-ongol, combro, unthuk cacing, lepet jagung, yangko.
“Sudah habis dari tadi,” celektuk pengunjung yang juga berjalan arah pulang, Jumat (6/2/2026).
Beruntung, Suryono datang membawa es goyang yang disimpan di dalam enam termos jadul berbahan stainless bertutup kayu.
Puluhan pengunjung pun langsung mendatangi dan mencicipi es buatannya itu.
Harga es yang dijualnya murah, cuma Rp 3.000.
Ia membawa puluhan es dengan berbagai rasa yang bervariasi. Ada stroberi, melon, anggur, jeruk, dan lainnya.
"Alhamdulillah, berkah," ucap Suryono.
Suryono bercerita sudah 20 tahun berjualan es goyang.
Saat ini, ia tinggal di Ngadirejo, Kabupaten Temanggung.
Ia menjual es goyang ke beberapa daerah.
Kadang di Temanggung, kadang di Magelang, kadang pula ke Salatiga.
Di hari Jumat, ia sengaja datang berjualan ke Kota Magelang, karena mendengar ada acara jajanan jadul.
Ia kemudian mendekat ke Pasar Cepit.
Ia tidak menyangka es yang dibawanya laris manis.
“Es ini tidak ada pengawetnya. Dibuat menggunakan santan, gula, pati, kemudian masukan ke cetakan, dan digoyang-goyangkan di atas garam dan es batu,” tutur pria 55 tahun itu.
Dirinya senang, es goyang masih laku.
Selain berjualan untuk menyambung hidup dan untuk membiayai sekolah anaknya, jualan es goyang menjadi caranya untuk melestarikan makanan zaman dulu.
Farid, salah satu pengunjung yang ikut membeli.
“Makan es sambil nostalgia. Ini es yang dulu saya makan saat kecil,” tuturnya.
Sementara, salah satu panitia acara, Martopo, menjelaskan, pihaknya tidak menyangka masyarakat begitu antusias dengan acara ini.
Masyarakat sudah mulai membeli satu jam sebelum acara resmi dibuka.
Setidaknya, ada 13 RW yang berpartisipasi dalam acara ini.
Mereka menghadirkan aneka jajan pasar yang mulai sulit dijumpai.
Kegiatan ini tidak hanya mengajak masyarakat bernostalgia, tapi juga menghidupkan kembali Pasar Cepit yang dulu pernah ramai. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto