RADARMAGELANG.ID, Magelang – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang digelar Universitas Tidar (Untidar) Magelang di awal 2026 ini menjadi bentuk dan tanggung jawab Universitas Tidar hadir di tengah-tengah masyarakat.
Di awal tahun ini, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untidar Magelang menyebar 476 mahasiswa untuk menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama periode Januari–Februari.
Mereka tersebar di 19 kecamatan dan 43 desa/kelurahan, yang meliputi Kabupaten Magelang (10 kecamatan, 26 desa), Kabupaten Temanggung (2 kecamatan, 5 desa), Kabupaten Wonosobo (1 kecamatan, 4 desa), Kabupaten Bantul (1 kecamatan, 1 desa), Kabupaten Kebumen (1 kecamatan, 2 desa), Kabupaten Purworejo (1 kecamatan, 2 desa), serta Kota Magelang (3 kecamatan, 3 kelurahan).
Dalam pelaksanaan KKN ini, pihaknya tidak bergerak sendiri.
Tapi bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Jawa Tengah maupun Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperkim).
“Dengan sejumlah program kerja itu, membantu pendataan rumah tidak layak huni dan untuk penanganan stunting. Disamping, teman-teman mahasiswa sudah melakukan observasi sendiri di lokasi KKN, terkait kebutuhan masyarakat di situ apa saja,” jelas Kepala LPPM Untidar Dr Eny Boedi Orbawati kepada Jawa Pos Radar Magelang, Kamis (22/1/2026).
Eny menjelaskan, terkait pemilihan wilayah untuk lokasi KKN, pihaknya selalu berkoordinasi dengan Bappeda daerah tersebut.
Dari titik lokasi yang sudah ditetapkan, saat ini mahasiswa yang memilih sendiri untuk lokasinya.
“Rencananya ke depan, untuk pemilihan lokasi KKN ini akan kita coba plotting. Karena ternyata, ada sejumlah daerah yang sudah mengharapkan dan membutuhkan support dari kita, tetapi mahasiswa tidak memilih daerah tersebut, salah satunya Kabupaten Sragen,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan, untuk mengantisipasi adanya kejadian yang tidak diinginkan, pihaknya selalu mengarahkan agar para mahasiswa KKN bisa fokus dan bertanggung jawab dengan tugasnya.
“Saat ini ada laporan, mahasiswa KKN kehilangan sepeda motor dan laptop. Ya, ke depan kita akan buatkan form untuk diisi, segala barang harus dijaga dan menjadi tanggung jawab masing-masing,” katanya.
Di sisi lain, selama KKN ini, sudah ada beberapa hasil yang bermanfaat di desa tersebut.
“Seperti di Banjarnegara, dulu ada kelompok KKN yang membuat alat penanganan sampah melalui proses pembakaran minim asap. Sehingga hal ini benar-benar dimanfaatkan masyarakat sana,” ujarnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto