RADARMAGELANG.ID, Magelang – Larangan perayaan malam pergantian Tahun Baru 2026 tanpa pesta kembang api bagai pedang bermata dua.
Ada pihak yang terdampak, ada pula yang tidak begitu terpengaruh.
Namun, bisnis perhotelan lah yang paling merasakan pengaruhnya.
Pasalnya, acara tahun baru yang mereka helat ditujukan bagi tamu-tamu rela merogoh kocek lebih untuk menikmati suasana eksklusif.
Sebaliknya, acara tahun baru yang diselenggarakan di area publik, tetap ramai pengunjung meski tanpa pesta kembang api, karena bersifat gratis.
Salah satu hotel yang terdampak adalah Grand Artos Hotel and Convention Magelang.
Pembatalan agenda rutin pesta kembang api di hotel berbintang empat itu berujung pada pembatalan paket perayaan dari sebagian besar tamu.
General Manager Grand Artos Hotel and Convention Magelang Sugeng Sugiantoro mengatakan, paket malam tahun baru sudah dijual sejak awal Desember. Ratusan tamu pun telah melakukan pemesanan.
“Setelah kami membatalkan pesta kembang api karena adanya imbauan, hampir 80 persen tamu memilih membatalkan pesanan,” kata Sugeng, Rabu (31/12/2025).
Bahkan awalnya, tingkat pembatalan mencapai 90 persen.
Pihaknya pun berusaha meyakinkan para tamu bahwa acara akan tetap berlangsung dengan berbagai acara menarik, sehingga pembatalan bisa ditekan.
“Kami sudah menyampaikan, acara akan digelar di lokasi yang sama, hanya tanpa kembang api. Tetap saja banyak tamu yang memilih membatalkan,” terangnya.
Sugeng bercerita, pesta kembang api di Hotel Artos selalu menjadi daya tarik dan begitu diminati tamu.
Dalam kondisi normal, pihaknya bahkan sampai menolak karena keterbatasan kapasitas ruangan Limaran Sky Lounge yang hanya bisa menampung 300 orang.
“Biasanya kami sampai menolak, karena sudah penuh. Kali ini menangis,” ujarnya.
Ia menyayangkan kebijakan yang dinilainya mendadak itu.
Sebab, larangan diumumkan setelah paket promo tahun baru di jual dan segala kebutuhannya dipersiapkan secara matang.
Sugeng meluruskan, bahaa perayaan pesta kembang api tidak lantas melunturkan solidaritas kepada masyarakat di daerah lain yang sedang terkena musibah.
“Pesta kembang api hanya 10 menitan saja, dan acara ini untuk memberikan hiburan bagi masyarakat sekitar yang tidak bisa menikmati pesta kembang api di kota lainnya, atau bahkan ke luar negeri,” tuturnya.
Ia mengakui, larangan pesta kembang api yang mendadak itu sangat merugikan.
Tidak hanya itu, Sugeng berpendapat bahwa kebijakan tersebut juga memukul usaha kecil yang biasanya ikut menikmati momentum malam tahun baru.
“Kami memahami keprihatinan nasional atas bencana di Sumatera, dan semua pihak sudah menunjukkan empati melalui berbagai cara. Namun, kami sektor hospitality menjual layanan. Dan ketika kebijakan itu berubah mendadak, tentu kerugian tidak bisa dihindari,” akunya.
Ia berharap, ke depan pemerintah dapat mempertimbangkan dampak kebijakan bagi sektor usaha.
Sebab saat ini, sektor usaha khususnya di pariwisata masih bertarung dalam kondisi sulit, yang sepenuhnya belum stabil.
Dampak serupa juga dirasakan oleh destinasi wisata, Homo Sapiens Park di Sawangan, Kabupaten Magelang.
Manager Homo Sapiens Park Heri Nugroho mengungkapkan, sejumlah tamu membatalkan kunjungan setelah agenda pesta kembang api ditiadakan.
“Karena tidak jadi ada kembang api, tamu membatalkan dan sebagian meminta penjadwalan ulang. Demi pelayanan, kami perbolehkan digunakan di lain hari,” akunya.
Senada dengan Sugeng, Heri juga berharap pemerintah bisa menyusun kebijakan yang lebih terprogram dan komunikatif dengan pelaku usaha pariwisata.
Menurutnya, setiap momen sangat berharga untuk mendulang jumlah pengunjung.
“Setiap momentum apapun, sangat berarti untuk menarik pengunjung,” ucapnya.
Berbeda dengan pariwisata dan perhotelan, Alun-alun Kota Magelang tetap ramai dihadiri ribuan penonton.
Masyarakat tetap menikmati konser musik secara gratis, meski tanpa ada agenda pesta kembang api.
Raka, pengunjung alun-alun asal Magelang tersebut mengaku jika sebelumnya ingin merayakan pergantian tahun baru di tempat wisata.
Namun niatnya urung, karena tak jadi ada pesta kembang api.
“Ya, karena sama-sama tidak ada kembang api, saya memilih ke alun-alun saja yang gratis, hehe,” ucapnya.
Menurut Raka, pesta kembang api menjadi hiburan yang dinantikan setahun sekali.
Namun ia menyayangkan, pesta kembang api tidak diperbolehkan dalam acara tahun baru, sementara masih mudah dijumpai masyarakat yang menyalakan kembang api di lingkungan rumah. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto