RADARMAGELANG.ID, Magelang—Pohon natal raksasa berdiri kokoh di sebelah utara Alun-alun Kota Magelang, tepatnya di halaman Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Beth-El Magelang.
Dengan bahan sederhana rafia warna putih, pohon natal dengan tinggi sekitar 10 meter dan diameter dasar lima meter ini tampak berdiri gagah di halaman salah satu gereja tertua di Kota Magelang ini.
Tercatat, GPIB Beth-El Magelang berdiri sejak 1817 atau sudah berusia 208 tahun.
Kesederhanaan bahan itulah yang menarik perhatian warga, sekaligus menyampaikan pesan iman, kepedulian, dan toleransi.
Ketua Dua Pengurus Harian Majelis Jemaat GPIB Beth-El Magelang Reno Ranuh mengatakan, pohon natal raksasa ini selain untuk memeriahkan perayaan natal 2025, juga menjadi simbol Kota Magelang benar-benar Kota Toleransi.
“Di sini ada Masjid Agung, Gereja Protestan, Gereja Katolik, dan kelenteng. Semoga tahun depan bisa terealisasi adanya tempat ibadah umat Hindu,” harapnya.
Ia menjelaskan, pohon yang menjulang tinggi ke atas ini merupakan simbol wujud Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Namun tetap harus membumi.
“Hadirnya pohon natal ini bukan untuk mendominasi. Tapi terangnya pohon natal di malam hari ini juga untuk menerangi bersama,” jelasnya.
Dikatakan, bahan yang digunakan merupakan hasil persembahan dari jemaat umat GPIB Beth-El Magelang.
“Bahan rafia yang terkumpul sekitar 35 kilogram, juga sejumlah ornamen. Semua dari jemaat,” ucapnya.
Pemilihan bahan rafia ini bukan tanpa pertimbangan.
Selain mudah didapat dan terjangkau, bahan tersebut dinilai lebih ramah lingkungan karena dapat digunakan kembali.
Ide ini diprakarsai oleh seniman internal jemaat.
“Bahannya sederhana, murah, dan bisa didaur ulang. Ini sejalan dengan semangat kesederhanaan natal. Sedangkan pemilihan warna putih dan ornamen yang sederhana menggambarkan kelahiran Yesus sebagai bayi yang rapuh sekaligus mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap kemanusiaan sejak dini,” bebernya.
Reno menambahkan, pohon natal ini dikerjakan kurang lebih selama tiga minggu. Desain lampu-lampu yang menghiasi ornamen sengaja tidak dibuat berlebihan, melainkan cukup untuk memberi terang yang menyatu dengan suasana alun-alun dan aktivitas masyarakat.
Pendeta GPIB Beth-El Magelang Yannedelle Hehanussa-Sahetapy menjelaskan, persiapan perayaan natal tahun ini tidak sekadar diarahkan pada kemeriahan simbolik.
Melainkan pada makna kehadiran Kristus yang membawa damai sejahtera dan empati bagi sesama.
“Sehingga untuk kegiatan-kegiatan kita bukan sekedar perayaan biasa, tetapi berempati terhadap tindakan yang nyata,” ujarnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto