RADARMAGELANG.ID, Magelang –Sakato Art Community (SAC) akhirnya meluncurkan katalog pameran karya seni bertema “Guru Terkembang Jadi Bentuk” di Museum OHD. Katalog pameran ini memuat gagasan falsafah Minangkabau melalui karya seni rupa.
Salah satu kurator seni SAC Anton Rais Makoginta mengatakan, peluncuran katalog ini menjadi cara mereka menyampaikan perjalanan SAC kepada masyarakat.
“Di dalam katalog itu sebenarnya kami mencoba untuk menyampaikan perjalanan Sakato. Harapannya, ada hikmah bagi orang lain, walaupun secara tidak langsung,” kata Anton saat peluncuran katalog di Museum OHD
Di sisi lain, katalog ini dihadirkan untuk menjaga eksistensi SAC. “(Tujuan) yang kedua (dipersembahkan) bagi masyarakat yang luas, mudah-mudahan menjadi inspirasi, mendapat hikmah,” jelasnya.
Gagasan falsafah “Guru Terkembang Jadi Bentuk” ini merujuk pada induk falsafah kebudayaan Minangkabau yakni “Alam Terkembang Jadi Guru” yang berarti alam terbentang luas dapat menjadi guru.
Orang Minangkabau memberi julukan tanah airnya “Alam Minangkabau” sebagai anggapan bahwa alam adalah segala-galanya. Ini berarti alam bukan hanya sebagai tempat lahir dan mati, tetapi juga sebagai makna filosofis. Oleh karena itu, ajaran dan pandangan hidup mereka yang dinukilkan dalam pepatah, petitih, pituah, mamangan, dan percakapan sehari-hari mengambil dari sifat dan bentuk alam.
Alam juga bukan hanya tanah, air, udara, dan api, tetapi apa saja yang terdapat dalam dunia ini, termasuk manusia beserta perbuatan dan pemikirannya yang telah dibukukan. Orang Minangkabau menjadikan seluruh elemen di bumi ini menjadi guru dan mempelajari seluruh ilmu yang ada dalam kehidupan mereka.
Berdasarkan hal tersebut, SAC juga ingin melihat akar tradisi kebudayaan Minangkabau yang didominasi dengan tradisi lisan.
“Dengan kesadaran demikian, kami ingin pula melihat akar tradisi Minangkabau. Tradisi kebudayaan Minangkabau sebagian besar adalah tradisi lisan, selain bentuk karya sastra, lisan digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan variasi yang berbeda-beda pula pada setiap daerah,” paparnya.
Meski begitu, percakapan sehari-hari orang Minangkabau memiliki karakter yang sama yakni berkiasan, kata ibarat, dan gerak tubuh dapat menjadi simbol. Tentu, ini membutuhkan kecakapan pengirim dan penerima pesan.
Para seniman SAC tidak hanya sekadar menerjemahkan pepatah-petitih Minangkabau menjadi teks visual, melainkan perwujudan dari kepekaan puitik yang tertanam dalam tradisi lisan tersebut.
Kepekaan ini menjadi daya kreatif individu (seniman) yang memungkinkan mereka mengolah bahasa rupa dengan pendalaman ekspresi unik bagi tiap-tiap seniman. Saat kepekaan puitik ditransformasikan ke dalam bahasa rupa personal, maka akan bergerak di ruang yang lebih bebas.
Metafor visual yang diwujudkan dalam karya seni tidak lagi terikat pada konstruksi makna tertentu seperti bentuk, warna, komposisi, dan kesepakatan kolektif, melainkan menjadi wadah eksplorasi individual.
Berpegang pada prinsip “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” para seniman SAC terbuka terhadap berbagai pengaruh dan “guru” yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari di perguruan tinggi seni rupa, medan seni yang dinamis, hingga pergaulan lintas budaya.
Dari sini, para seniman SAC berpandangan bahwa warisan budaya Minangkabau bukan sebagai batas yang membelenggu, tetapi justru memperkaya proses pembuatan artistik.
Dengan demikian, karya-karya yang dihasilkan dapat menghadirkan bahasa rupa puitik dan personal, penuh kemungkinan, dan selalu bergerak di antara tradisi, identitas, dan eksplorasi kontemporer.
Pandangan tersebut melahirkan judul pameran “Guru Terkembang Jadi Bentuk” yang menegaskan bagaimana warisan puitik dari patatah-petitih Minangkabau dapat ditransformasikan ke dalam kekuatan seni rupa.
Adanya transformasi ini menunjukkan para seniman SAC menghasilkan karya-karya yang terlepas dari kewajiban merepresentasikan pesan tunggal, sekaligus menghidupkan sensibilitas kultural Minangkabau yang bekerja sebagai genealogi bawah sadar dalam proses kreatif pembuatan seninya.
Karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini menjadi jejak pencapaian artistik para seniman, sekaligus menghadirkan ruang dialog visual yang mencerminkan identitas kultural Minangkabau. Identitas ini telah diolah, dinegosiasi, dan diartikulasikan dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia.
Melalui katalog ini, para penikmat seni dan masyarakat umum dapat memahami dasar pemikiran para seniman layaknya bagaimana mereka menciptakan karya dan kategori seniman tersebut.
Pameran karya SAC di Museum OHD telah berlangsung sejak 18 Juni 2025 hingga akhir November nanti. Peluncuran katalog ini disaksikan langsung oleh pemilik Museum OHD, dr Oei Hong Djien, kurator Asmudjo Jono Irianto, para seniman SAC, seniman Magelang, dan seniman Jogjakarta. (mg1/put)
Editor : H. Arif Riyanto