RADARMAGELANG.ID, Magelang– Di antara deretan stan dari berbagai universitas dari seluruh Indonesia yang berjajar berpartisipasi dalam KMI Expo 2025, satu hal yang bisa dirasakan sejak pertama kali melangkah masuk yaitu mengenai bagaimana kreativitas mahasiswa seolah tidak ada habisnya.
Di dalamnya, bukan berisikan soal siapa yang paling besar atau paling mahal. Justru produk-produk yang lahir dari cerita kecil, keresahan personal, dan dorongan untuk memecahkan masalah sehari-hari, itulah yang paling mencuri perhatian.
Dengan membawa inovasi uniknya, para mahasiswa dari berbagai daerah menunjukkan bagaimana ide-ide sederhana bisa berhasil menjadi produk bernilai, bahkan punya potensi jadi usaha jangka panjang.
Berikut beberapa produk yang paling menonjol di KMI Expo tahun ini.
- TiwulBar — Mengangkat Kembali Tradisi Nasi Singkong ke Era Modern
Di tengah maraknya makanan instan, Tiwul yang merupakan nasi singkong khas Jawa yang dulunya menjadi penyelamat di masa paceklik, hampir tidak digubris oleh generasi sekarang. Hal ini justru memantik ide mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta untuk mengemasnya ulang menjadi healthy snack bar yang praktis, modern, dan bergizi.
“Ternyata banyak yang nggak tau tiwul itu apa, apalagi di daerahku Depok sana, padahal ini makanan lokal yang sehat,” ujar Naila, 20, CFO TiwulBar.
TiwulBar mengombinasikan tiwul dengan madu, biji-bijian, hingga kismis. Rasanya manis natural, ringan, dan cocok sebagai pengganti cemilan tinggi gula. Produk ini tidak hanya mengangkat kembali warisan kuliner, tapi juga memanfaatkan bahan lokal yang mudah dibudidayakan.
TiwulBar juga punya misi sosial: menjaga agar generasi muda tidak melupakan sejarah makanannya sendiri.
- Sereh Holic — Aromaterapi Murni dengan Misi Menyejahterakan Petani
Jika biasanya aromaterapi identik dengan produk premium buatan pabrik besar, Sereh Holic menampilkan sisi yang berbeda. Terbuat dari ekstraksi murni sereh tanpa campuran, produk ini tidak hanya menonjol secara kualitas, tetapi juga punya visi besar.
“Kami ingin membantu petani sereh dapat harga yang lebih baik,” ujar Rasfa, 21, mahasiswa semester tujuh.
Sereh Holic hadir untuk dua kebutuhan sekaligus: kesehatan dan pemberdayaan.
Aromaterapi ini membantu relaksasi, memperbaiki kualitas tidur, meredakan stres, dan memberi efek menenangkan.
Di balik itu, timnya berencana membangun rantai distribusi yang berpihak pada petani. Bahkan, mereka mulai menargetkan pasar Eropa khususnya Prancis yang terkenal sebagai pusat industri minyak atsiri dunia.
Dengan desain simpel tapi elegan, Sereh Holic bisa menjadi salah satu produk unik yang bisa untuk pengunjung kunjungi.
- Wedang Kecombrang “Mekar” — Minuman Tradisional dengan Sentuhan Flavor Modern
Kecombrang mungkin identik dengan masakan tradisional Sunda, tapi tim Universitas Bina Insani berhasil meramunya menjadi minuman kekinian dalam enam varian rasa.
Kemasannya simpel, tapi rasa dan aromanya unik: segar, herbal, sekaligus hangat.
“Anak-anak muda itu suka yang praktis, tapi kita tetap pertahankan rasa khasnya,” jelas Dinda Pradita, 20.
Bahan kecombrang dipilih karena manfaatnya yang banyak, mulai dari antioksidan hingga baik untuk pencernaan.
Wedang ini tidak sekadar minuman, tapi juga usaha untuk memperkenalkan kembali bahan-bahan lokal kepada generasi muda, tanpa kehilangan identitasnya.
- Terrarium.qu — Filosofi Jawa dalam Sebuah Hutan Mini
Di stan UNY, sebuah detail kecil menarik perhatian: kaca bening berisi hutan mini yang tumbuh rapi seperti dunia yang dilipat kecil. Produk ini bernama Terrarium.qu.
Miniatur hutan hujan tropis ini tidak hanya cantik secara visual, tapi juga membawa pesan budaya Jawa: memayu hayuning bawana, merawat keseimbangan dunia.
“Kami ingin orang merasakan ketenangan kecil di rumahnya,” ujar Dian, 21.
Setiap terrarium dirancang dengan teknik berbeda, seperti layering tanah, pasir, dan batu. Produk ini bisa bertahan bertahun-tahun karena menggunakan sistem mikro-ekosistem yang mandiri.
Terrarium.qu menjadi salah satu stan dengan pengunjung yang lama berhenti, karena menawarkan pengalaman kontemplatif yang jarang ada di pameran mahasiswa.
- LEACY — Skincare Ramah Lingkungan yang Lahir dari Laut
Skincare LEACY dari Universitas Mataram membawa konsep yang jelas: cantik tanpa merusak lingkungan.
Dengan menggunakan kombinasi rumput laut, habbatussauda, dan alga, produk LEACY bebas SLS dan bahan sintetis yang merusak ekosistem laut. Produk yang ditawarkan yaitu berbentuk face wash dan lotion.
“Kebetulan kami tinggal di daerah pesisir, jadi kami ingin skincare yang ramah laut apalagi dengan identitas kami yang dari program studi kelautan, dosen-dosen kami pun juga sudah banyak yang meriset mengenai bahan yang kami pakai untuk membuat produk,” ujar Sani, 20.
Legalitas produk ini lengkap mulai dari uji lab, izin BPOM, hingga uji stabilitas.
LEACY termasuk produk yang paling siap go-UKM dan masuk pasar e-commerce.
Keunikan produk dengan membawa kandungan rumput laut hingga alga, yang bahkan juga sudah melalui banyar riset terkait dengan manfaatnya untuk kulit membuat produk ini begitu menarik perhatian.
- Kelavita — Jelly Khas Kalimantan untuk Cegah Stunting
Kelavita dari Universitas Muhammadiyah Banjarmasin memiliki misi yang jauh lebih besar dari sekadar bisnis: kontribusi terhadap pencegahan stunting dan pencegahan anemia.
Produk ini mengombinasikani daun kelakai atau yang biasa dikenal dengan daun pakis yang merupakan tanaman khas Kalimantan Selatan, dan penambah rasa dari sari buah limau kuit yaitu jeruk purut, yang tinggi akan zat besi.
“Kami ingin anak-anak punya alternatif minuman sehat yang enak,” ujar Nabila, 20.
Teksturnya seperti jelly drink tapi dengan komposisi kaya mineral, cocok untuk anak-anak yang sulit makan sayur.
Kelavita menjadi contoh bagaimana mahasiswa membaca isu nasional dan menerjemahkannya menjadi produk nyata.
Kesimpulan: Ruang Inovasi yang Tidak Pernah Padam
KMI Expo 2025 membuktikan bahwa mahasiswa hari ini bukan sekadar konsumen, tetapi produsen gagasan. Mereka membaca peluang dari hal-hal yang dianggap biasa: tanaman lokal, bumbu dapur, warisan kuliner, bahkan lingkungan sekitar.
Dari sinilah kemudian lahir produk yang bukan hanya menarik, tetapi membawa makna, kepedulian, hingga visi jangka panjang.
Expo tahun ini juga menunjukkan bahwa inovasi tidak melulu tentang teknologi tinggi.
Sering kali, ia lahir dari rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kepedulian terhadap budaya.
Dan dari semua itu, satu hal terasa jelas:
masa depan UMKM muda Indonesia berada di tangan generasi kreatif yang berani mengubah ide kecil menjadi perubahan nyata. (mg8/mg10)
Editor : H. Arif Riyanto