Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Magelang Design Week 2025: Menghidupkan Asa Kampung Kota Lewat Desain

Magang Radar Magelang • Jumat, 7 November 2025 | 02:59 WIB
Sesi tanya jawab dalam rangkaian acara Magelang Design Week 2025
Sesi tanya jawab dalam rangkaian acara Magelang Design Week 2025

RADARMAGELANG.ID, Magelang - Gelaran Magelang Design Week (MGL DSGN WEEK) 2025 kembali hadir untuk tahun kedua dengan semangat baru. 

Acara yang diinisiasi oleh Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kota Magelang ini mengusung tema “Sengkuyung Asa Kampung Kota”. 

Tahun ini, kegiatan tak hanya menyoroti aspek visual desain, tetapi juga menggali nilai-nilai sosial dan peran kreatif bagi masyarakat kota.

Didukung oleh DPPKUM  (Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro) Kota Magelang, acara ini menjadi wadah kolaborasi antara komunitas kreatif, akademisi, dan pemerintah daerah untuk merumuskan narasi baru tentang desain serta pemberdayaan kampung kota.

Ketua penyelenggara Kury Yusuf menjelaskan, Magelang Design Week lahir dari keprihatinan terhadap belum tumbuhnya industri desain di Kota Magelang. 

“Menurut kami, di Kota Magelang belum ada industri untuk desain. Pelaku desain di Magelang banyak, tapi industrinya belum hidup. Kebanyakan klien mereka dari luar kota atau luar negeri,” katanya.

Tema “Sengkuyung Asa Kampung Kota” muncul dari gagasan tentang pemberdayaan kampung agar lebih mandiri.

Kury menceritakan bahwa ide tersebut muncul sejak 2021, setelah ia mengikuti kegiatan reses dan mendengar keluhan warga soal hal-hal kecil seperti penerangan jalan.

Dari situ muncul harapan agar kampung bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus selalu bergantung pada pihak luar.

Acara dibuka dengan sesi 5x5 Designer’s Monologues, yang menampilkan lima desainer dari bidang berbeda untuk berbagi kisah perjalanan mereka melalui monolog.

Mereka adalah Aisyah Ayu N. (fashion designer, Chantiq Indonesia), Fany Sejati (3D designer, Panik Industries), Fahmi Ilhamsyah (graphic designer, Stick Around Initiative), Herni Nurul F. (illustrator, Hepi Nobi), dan Tiko Juniarto (choreographer, Sigrak Bawono).

Magelang Design Week 2025 turut menghadirkan kuliah umum bertajuk “Paska Kreativisme: Menghidupi Seni yang Menghidupi.”

Dua pembicara, yakni Aryo Pamungkas dari Slab! Design Studio dan Ahmad Khairudin dari Kolektif Hysteria, berbagi pandangan tentang bagaimana seni dan desain dapat berfungsi sebagai penggerak ekonomi dan sosial, bukan hanya soal estetika semata. 

Sejalan dengan tema “Sengkuyung Asa Kampung Kota,” kegiatan berikutnya melibatkan 17 kelompok dari seluruh kelurahan di Kota Magelang, masing-masing beranggotakan enam orang.

Mereka terdiri dari perwakilan kelurahan, warga, serta pihak dari jurusan ilmu komunikasi, pariwisata, dan DKV.

Mereka bersama-sama merumuskan potensi dan permasalahan kampung, sekaligus menyusun narasi dan visualisasi identitas kampung.

 “Kita pengen kampung-kampung di Magelang punya narasinya sendiri. Storytelling penting supaya kampung bisa dijual, bukan cuma untuk pariwisata, tapi juga untuk mendukung Magelang sebagai kota jasa. Harapannya nanti ada 17 konsep muncul dari 17 kelurahan yang masing-masing diwakili satu kampung saja,” ujar Kury.

Lebih lanjut Kury menegaskan, desain bukan hanya soal tampilan, tetapi juga cara berpikir dan menyelesaikan masalah.

Menurutnya, desain memiliki peran penting dalam memecahkan persoalan sosial dan ekonomi di masyarakat, termasuk di tingkat kampung.

“Desain itu sebenarnya problem solving, jadi ada masalah apa, diselesaikannya dengan desain,” ujarnya singkat.

Ia berharap, Magelang Design Week ke depan bisa memperluas jangkauan isu dan melibatkan lebih banyak pelaku kreatif di berbagai bidang.

Kury menilai dua tahun pertama penyelenggaraan ini masih menjadi tahap awal untuk memperkuat ekosistem kreatif di Kota Magelang.

“Semoga tahun depan kita bisa ngomongin desain yang lebih luas. Karena dua tahun pertama justru terlalu luas,” pungkasnya.

Salah satu peserta, Lutfiana Tanjung, 21, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Tidar, mengaku mendapat banyak inspirasi dari acara ini.

Ia mengatakan, kegiatan seperti ini penting untuk menambah wawasan dan membuka peluang kontribusi anak muda dalam bidang seni dan desain.

“Aku jadi tahu kalau desain itu nggak cuma soal estetika, tapi juga bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih fungsional dan berdampak,” ujarnya.

Melalui Magelang Design Week 2025, Ekraf Kota Magelang ingin menegaskan bahwa desain bukan sekadar soal visual, tetapi tentang bagaimana kita bersama-sama merancang kehidupan yang lebih baik dan bermakna. (mg10/mg8)

Editor : H. Arif Riyanto
#DPPKUM Kota magelang #Ekonomi Kreatif Kota Magelang #Magelang Design Week 2025