RADARMAGELANG.ID, Magelang—Pemkot Magelang soroti fenomena fear of missing out (FOMO) yang menyerang Generasi Z (Gen-Z).
FOMO merupakan rasa takut berlebihan akan ketinggalan sebuah tren.
Perilaku FOMO berdampak pada perubahan gaya hidup yang dipaksakan. Akibatnya, mereka terjerat pinjaman online (pinjol).
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Magelang Susilowati menyebut, Gen-Z juga memanfaatkan kemudahan pay later untuk memenuhi gaya hidup.
Kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Kata dia, penggunaan medsos harus dengan pengawasan, serta diiringi dengan edukasi investasi dan manajemen keuangan sejak dini.
“Mereka harus diberikan edukasi manajemen risiko, agar dapat memanfaatkan peluang ekonomi digital maupun kreatif dengan cerdas, bertanggung jawab,” ujar Susilowati dalam sosialisasi Investasi Dunia Anak Gen-Z, di Taman Kyai Langgeng, Rabu (22/10/2025).
Sosialisasi serupa diakui sudah berjalan sejak tahun lalu. Bertujuan untuk membekali pelajar SMA, agar memiliki pemahaman investasi sejak usia muda.
“Kami berharap, sosialisasi ini akan memberi wawasan baru, sekaligus membuka cakrawala berpikir terhadap peluang ekonomi yang dapat mereka ciptakan dan manfaatkan,” ungkapnya.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono menguraikan makna investasi yang luas.
Tidak hanya soal menanam modal uang atau menabung dengan harapan keuntungan materiil, tapi juga investasi pada diri sendiri.
Damar menjelaskan konsep human capital development sebagai investasi yang krusial, melalui pembelajaran, pengalaman, dan inovasi.
Menurutnya, literasi investasi adalah fondasi terpenting yang harus dimiliki generasi muda, agar dapat memperhitungkan risiko serta nilai dari penanam modal.
“Hal terpenting untuk memahami investasi adalah dengan memiliki kemauan terlebih dahulu. Kalau sudah punya kemauan, nanti pasti akan berusaha untuk punya kemampuan yang siap untuk menyongsong masa depan yang baik,” tutur Damar.
Dalam sesi tanya jawab, seorang siswa bertanya terkait langkah awal memulai investasi. Damar menanggapi bahwa modal awal bisa berupa nilai kepercayaan dan kerjasama kecil-kecilan, seperti patungan usaha jasa di lingkungan teman sekolah.
Selain itu, menabung termasuk bentuk investasi yang harus dikenali sejak dini guna membangun disiplin finansial.
“Menabung salah satu modal penting untuk melangkah ke investasi yang lebih kompleks,” ucapnya.
Pertanyaan lain muncul dari seorang siswi asal SMA Negeri 3 Magelang, ia menyoroti mengenai investasi emas yang telah diajarkan oleh sang ibu.
Wali Kota menjelaskan bahwa emas merupakan investasi yang stabil dan menjanjikan dari sisi nilai pasar global.
Namun, investasi emas berbeda dengan membuka usaha skala mikro yang mampu menciptakan lapangan kerja.
Sebagai bentuk dukungan praktis, Pemkot Magelang juga meluncurkan program Jempol (Jemput Pelajar Kota Magelang). Sebuah fasilitas angkutan umum gratis khusus pelajar dari tingkat TK hingga SMA.
Program ini memungkinkan pelajar menghemat biaya transportasi, sehingga dapat menyisihkan uang untuk ditabung atau diinvestasikan. Program ini akan berjalan mulai tanggal 25 Oktober dengan 27 armada angkot yang beroperasi pada jam masuk dan pulang sekolah.
Damar juga mengemukakan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam membentuk pola pikir, serta perilaku investasi anak.
Menjawab tantangan warga Magelang yang tidak hanya berasal dari dalam kota, pemerintah berencana bekerja sama dengan daerah sekitar untuk mengembangkan program boarding dan parenting yang tidak hanya fokus pada sekolah, tapi juga lingkungan rumah dan masyarakat.
“Kolaborasi ini diharapkan menciptakan generasi muda yang tidak hanya paham teori namun juga praktik investasi dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Wali kota menekankan bahwa pengembangan investasi generasi muda bukan soal keuntungan finansial, melainkan kontribusi aktif terhadap pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.
Dalam akhir sesi, Damar menyampaikan harapannya kepada Gen-Z, agar mulai berani untuk berinvestasi dan berwirausaha, dimulai dari hal-hal kecil seperti menabung, berhemat, dan menjalin koneksi sebanyak-banyaknya hingga menjadi menjadi sebuah jalinan investor.
Kepala Bidang Instrumen dan Penguatan Kanwil Kementerian HAM Jawa Tengah Moh Hawary Dahlan berpesan, agar investasi yang melibatkan anak tidak hanya berfokus pada modal, namun juga membutuhkan pengawasan. (mg4/mg7/aro)
Editor : H. Arif Riyanto