RADARMAGELANG.ID, Magelang – Keberadaan depo sampah di kawasan Sanden, Magelang Utara, terusik.
Pasalnya, baru-baru ini telah berdiri bangunan Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) alias dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kendati demikian, Wali Kota Magelang Damar Prasetyono tak ingin gegabah memindahkannya.
Pantauan Jawa Pos Radar Magelang, lokasi SPPG hanya berjarak 30-50 langkah dari depo sampah. Wali Kota Magelang Damar ingin berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Kata Damar, DLH yang bisa menilai urgensitas pemindahan depo sampah.
Selain itu, harus melibatkan masyarakat dalam menentukan sikap.
Karena bagaimanapun, depo sampah itu sudah ada sejak dulu dan digunakan untuk penampungan sampah warga sekitar.
“Kita juga sudah koordinasi (terkait lokasi depo dan SPPG) dengan kepala SPPG dan koordinator SPPG yang ada di Kota Magelang, kata mereka itu ranah BGN,” jelasnya, kepada Jawa Pos Radar Magelang, pekan lalu.
“Jadi pemindahan depo itu perlu kajian yang teliti dan mendalam,” sahutnya.
Sementara Pemkot Magelang mengambil peran untuk memastikan SPPG memenuhi standar kelayakan yang ditetapkan BGN. Juga patuh pada aturan yang ditetapkan pemangku kepentingan terkait, seperti Dinas Kesehatan (Dinkes), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan lainnya.
“Kita hanya memastikan bagaimana sirkulasinya, bagaimana keluar masuknya barang, bagaimana penyaji makanan itu, bagaimana sterilisasi yang dilakukan mereka, dan sebagainya,” ujarnya.
Pantauan di lapangan, depo sampah yang terletak di Sanden ini sebetulnya merupakan pusat pembuangan sampah yang diperuntukan bagi warga RW 7, 8, 9 Kelurahan Kramat Selatan.
Dengan banyaknya masyarakat yang membuang sampah di depo sampah ini, membuat area sekitar depo tercium bau menyengat. Bahkan ada sampah yang kadan berserakan di luar.
Ternyata, keberadaan depo sampah di kawasan Sanden mendapat respon yang beragam.
Apalagi sejak adanya SPPG yang berdekatan dengan depo sampah, ada masyarakat yang menyarankan untuk deponya dipindah.
Sebaliknya, ada juga yang menginginkan depo sampah itu tetap di sana.
Misalnya saja, Mawardi, 72, warga yang rumahnya berada tepat di depan depo sampah.
Dirinya menginginkan agar depo sampah itu dipindah.
Alasannya, karena letaknya yang berada di dekat permukiman warga, disusul munculnya SPPG baru yang berdiri di dekat area depo sampah.
“Masalah sampah ini, masak deketan sama tempat makanan (SPPG, Red), deket dengan sarana olahraga juga. Kemudian juga katanya ini (SPPG, Red) untuk gizi, masak dekat dengan depo sampah. Nanti malah (makanan) tercemar dengan bau sampah,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (21/10/2025).
Mawardi menambahkan, sebenarnya masalah depo sampah ini sudah sejak lama dikeluhkan warga.
Bahkan rencana pemindahan depo sampah sebenarnya sudah dijanjikan oleh wali kota terdahulu, namun sampai sekarang belum terealisasi.
“Ini kan di tengah kota bahkan dekat dengan area olahraga, jadi kalo ada event (olahraga) kan jadi kurang elok. Apalagi kalau habis hujan atau panas itu baunya suka kebawa angin. Baunya kemana-mana,” ungkapnya.
Berbeda dengan Mawardi yang menginginkan depo sampah dipindah, Kodri, 41, memilih irit bicara.
Pedagang yang sehari-hari beraktivitas di sekitar depo sampah, ia cenderung netral, enggan berkomentar.
Sebab, ia khawatir, jika depo dipindah, biaya retribusi juga ikut bertambah.
“Sekarang kalau nggak salah sekitar Rp 5 ribu untuk biaya sampah. Kalau nanti dipindah, logikanya (biaya) pasti akan tambah. Kalau (yang mengambil) pakai motor atau mobil nambahnya dikit, tapi kalo pakai gerobak bisa jadi Rp 10 ribu,” ucapnya. (mg2/put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto