RADARMAGELANG.ID, Magelang –Kamis (2/10) siang, kondisi Pasar Cepit terlihat lengang. Lorong-lorong pasar tampak kosong dengan deretan kios yang tak lagi terisi.
Saat ini, jumlah pedagang yang aktif tinggal empat orang. Sebagian besar menjual sayur dan makanan.
Maryati, 70, pedagang senior yang sudah berjualan sejak 1977 masih setia menempati lapaknya. Ia menjadi saksi perjalanan panjang Pasar Cepit sejak dipindahkan dari lokasi lama di dekat masjid ke tempat sekarang yang dulunya area pemakaman. “Dulu ramai sekali, tapi sejak covid mulai sepi.
Banyak juga pedagang yang sudah meninggal. Anak-anaknya tidak mau meneruskan karena sepi,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Hal senada diungkapkan Suci, pedagang makanan. Ia sudah enam tahun membuka lapak di Pasar Cepit.
Suci biasanya berjualan mulai pukul 11.30 sampai 00.00 dengan menjual berbagai macam menu.
Seperti nasi goreng, mi kopyok, bakmi, soto, hingga sop senerek.
Namun, ia mengaku keramaian hanya datang ketika ada acara tertentu, seperti kegiatan warga saat peringatan 17 Agustus dan acara bulan bakti gotong royong.
“Kalau ada acara, warung rame. Pembelinya juga ada dari luar Botton. Pernah ada kabar pasar mau direnovasi, tapi sampai sekarang belum ada kelanjutannya,” ungkapnya.
Sri Mulyani, 61, warga asli Jawa Timur yang sudah 40 tahun menetap di Kampung Botton menceritakan, Pasar Cepit dulunya menjadi pusat perbelanjaan kebutuhan masyarakat sekitar.
“Kalau dulu di sini komplet. Ada sayur, soto, sampai dawet pun ada. Sekarang paling ya itu, cuma tinggal beberapa aja,” ungkapnya.
Ia menambahkan, salah satu faktor yang membuat pasar semakin sepi adalah banyaknya pedagang sayur keliling yang menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah.
“Sekarang lebih banyak yang beli ke tukang sayur keliling, jadi pasar makin sepi. Padahal kalau ada event tertentu, pasar jadi lumayan rame. Harapan saya, semoga Pasar Cepit bisa lebih maju lagi,” harapnya.
Pasar Cepit terakhir kali ramai saat digelarnya bulan bakti gotong royong.
Setelah itu, aktivitas kembali sepi. Hingga kini, para pedagang dan warga hanya bisa menunggu adanya langkah revitalisasi dari Pemkot Magelang.
Sekarang Pasar Cepit berubah menjadi sebuah cagar budaya dan objek wisata.
Tampak di depan terpasang papan nama objek wisata Pasar Cepit yang dibuat Kelompok Sadar Wisata “Mahkota” Kelurahan Magelang. Hal ini dilakukan agar bisa menarik para pengunjung.
Pasar Cepit sejatinya sebuah tempat yang memiliki nilai history tersendiri, namun seakan-akan ditelan oleh zaman. (frisca nur febrista/nasib fahrudin/aro)
Editor : H. Arif Riyanto