Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Kali Kotak, Talang Air Peninggalan Belanda 1930 yang Masih Jadi Nadi Pengairan Magelang

Magang Radar Magelang • Kamis, 2 Oktober 2025 | 20:21 WIB

 

Tanggal pembuatan tanggul kali kotak pada era penjajahan
Tanggal pembuatan tanggul kali kotak pada era penjajahan

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Kali Kotak yang berada di Kampung Poncol, Kelurahan Gelangan, Kota Magelang, hingga kini tetap berdiri kokoh meski usianya lebih dari sembilan dekade.

Talang air yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda antara 1 Oktober hingga 31 Desember 1930 ini masih menjadi jalur vital sistem irigasi pertanian di wilayah Magelang.

Arif Nur Hadi, 44, penjaga pintu air sejak 2005 dan ditempatkan di Poncol dalam empat tahun terakhir mengatakan, dirinya dan petugas lain senantiasa siaga dalam mengatur debit air.

“Setiap hari harus siap siaga, sistemnya lewat grup. Nanti diinformasikan cuaca, arus, dan aliran. Di sini ada alat ukur volume debit air. Kalau sudah tinggi, pintu dibuka supaya air dialirkan ke bawah,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Dia menjelaskan, fungsi utama Kali Kotak sebagai sistem irigasi sawah, dengan aliran yang terhubung hingga kawasan Talang Londo.

Tantangan muncul terutama ketika musim kemarau, ketika debit air mengecil.

“Kadang debit air kecil, petani jadi kurang sabar di pintu-pintu pengatur. Karena itu, harus diatur hati-hati,” tambahnya.

Selain di Poncol, pintu-pintu pengendali air juga tersebar di Baben, Seneng, Payaman, dan Nggiren.

Untuk pintu air besar seperti Poncol, disediakan rumah dinas bagi petugas penjaga.

Arif menambahkan, setiap minggu dilakukan perawatan rutin.

Misalnya dengan mengoleskan oli pada gerat pintu agar tetap berfungsi lancar.

Ia menegaskan, bangunan tersebut belum pernah direhabilitasi besar sejak masa pembuatannya.

“Kalau musim kemarau, pintu dibuka semua, sehingga bagian atas bisa surut,” imbuhnya.

 

Bangunan tanggul kali manggis yang berbentuk kotak masih kokoh berdiri hingga sekarang
Bangunan tanggul kali manggis yang berbentuk kotak masih kokoh berdiri hingga sekarang

Supri, 76, warga lama setempat menyebut, bangunan talang air yang dikenal sebagai Sungai Manggis ini belum pernah mengalami kerusakan serius seperti bocor atau jebol sejak awal berdiri.

“Aslinya sungai ini bernama Manggis. Orang menyebutnya ‘Kali Kotak’ karena talang air berbentuk kotak. Sekitar sepuluh tahun lalu talangnya ambles, tapi segera diperbaiki dan ditinggikan oleh Dinas Perairan,” katanya.

Warga juga mengambil bagian dalam menjaga kondisi talang.

Setiap tahun mereka secara rutin mengecat agar bangunan tetap terawat.

Bawah talang mengalir Sungai Manggis yang berfungsi menampung kelebihan air saat hujan lebat.

Air Kali Kotak digunakan untuk mengairi sawah di Seneng (belakang Akmil) dan wilayah hilir, sedangkan kebutuhan air minum dan mencuci warga lebih banyak mengandalkan PDAM.

Kini, lahan irigasi di bawah talang yang dulunya menjadi bagian sistem pertanian telah berubah menjadi permukiman.

Meski demikian, talang air rancangan Belanda tahun 1930 ini masih memegang peran vital bukan sekadar sebagai struktur air, tapi juga saksi bisu perjalanan panjang sistem perairan di Magelang (najwa salsabila saharani/raihan darmawan/aro).

Editor : H. Arif Riyanto
#perairan #talang air #magelang #Peninggalan Belanda di Indonesia #peninggalan belanda #kampung poncol #irigasi #Kota Magelang #sungai