RADARMAGELANG.ID, Magelang - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah masih terus bergulir di berbagai sekolah di Kota Magelang, meski sempat diwarnai kasus keracunan di sejumlah daerah.
Di lapangan, sekolah, siswa, maupun orang tua murid memberikan tanggapan beragam, ada yang mendukung penuh, ada pula yang masih menyimpan rasa waswas.
Kepala MTsN 2 Kota Magelang, Gunartomo, menuturkan bahwa hampir seluruh siswanya mengikuti MBG, kecuali yang sedang berpuasa.
Bahkan, siswa yang awalnya enggan ikut akhirnya justru berebut mendaftar setelah melihat variasi menu.
“Awalnya ada yang gengsi tidak ikut, tapi setelah melihat menunya sesuai selera, akhirnya ikut berebut,” ujarnya.
Setiap hari, sekolah ini menerima sekitar 672 porsi MBG. Untuk memastikan jumlah tepat, pihak sekolah selalu melakukan absensi pagi sebelum melapor ke dapur penyedia.
Menunya pun variatif, terkadang pengelola MBG di MTsN 2 Kota Magelang sering melakukan sharing dengan pihak badan gizi untuk menyesuaikan selera siswa
Terkait kasus keracunan yang sempat mencuat, Gunartomo menilai penyebabnya bisa beragam.
Bahan makanan yang disimpan terlalu lama, kapasitas dapur yang dipaksakan, atau tenaga masak yang kurang profesional.
“Pengawas juga harus betul-betul teliti karena paling enggak harus ada tester,” tegasnya.
Komite Sekolah MTsN 2, Tri, juga menambahkan bahwa di awal program memang ada anak-anak yang kurang selera karena perubahan resep, misalnya penggunaan bumbu masak.
Namun secara umum, sosialisasi gizi seimbang yang dilakukan sekolah membuat siswa dan orang tua tetap percaya.
Sementara itu, Kepala SDN 5 Jurangombo, Endang, mengungkapkan bahwa tidak ada siswa yang menolak MBG, meski ada yang kurang selera karena belum terbiasa dengan makanan bergizi.
Ia menilai kasus keracunan bisa dicegah dengan pengawasan ketat.
“Kalau saya mengantisipasi ya, sekarang itu setiap mau ngasih ke siswa dicek dulu karena dulu pernah ada kejadian makanan kemarin dikrim lagi, tapi untungnya kita tahu, kita langsung lapor, dan langsung diganti,” ujarnya.
Ia juga berharap program MBG bisa berjalan terus dan merata karena ada sebagian sekolah yang belum mendapat MBG sama sekali.
“Kalau tidak merata bisa menimbulkan kecemburuan sosial, apalagi sekolah pinggiran banyak yang berharap mendapat MBG,” katanya.
Dari sisi orang tua, sebagian masih menyimpan rasa waswas.
Ani, 43, wali murid SDN Jurangombo 5, mengaku pernah menemukan masakan MBG yang dibawa anaknya pulang berasa asam atau kecut.
“Kalo sisa makanan MBG yang dibawa anak kerumah itu saya cicipi kadang ada yang agak asem, kadang ada yang kecut. Tapi gak semuanya, cuma tertentu aja,” ungkapnya.
Meski begitu, ia tetap mendukung program ini dan berharap variasi menu diperhatikan.
Sesekali ia juga masih membawakan bekal untuk anaknya jika sempat memasak di rumah.
Dari tanggapan sekolah maupun orang tua, program MBG di Kota Magelang tetap mendapat dukungan kuat.
Namun, pengawasan menjadi kunci agar kasus keracunan tidak kembali terjadi.
Profesionalisme dapur, kualitas bahan, higienitas, hingga variasi menu menjadi harapan bersama agar MBG benar-benar membawa manfaat bagi tumbuh kembang siswa. (mg10/mg5/aro)
Editor : H. Arif Riyanto